Mon. Mar 30th, 2020

Wow…Ada Komunitas Plane-Spotter Berbadan Hukum di Indonesia

                                   

Fotografer aviasi yang berburu objek pesawat terbang (plane spotting) atau plane-spotter masih relatif baru di Indonesia. Karena itu, aktivitasnya belum mendapat pengakuan secara sah atau legal. Ketika berburu foto, para plane-spotter masih berhadapan dengan lingkungan yang belum ramah.

Aviation security (avsec) di bandara misalnya, masih mengganggap bahwa aktivitas plane spotting bisa membahayakan operasi penerbangan. Begitu pula pengelola bandara di Indonesia, masih belum memfasilitasi kegiatan ini. Beberapa pihak lain pun masih menganggap bahwa plane spotting merupakan aktivitas yang membuang-buang waktu.

Adalah Benny Radja JH Manurung, seorang plane-spotter senior di Indonesia, menggagas untuk membentuk komunitas fotografer aviasi yang berbadan hukum. “Komunitas ini untuk menjalin hubungan baik dengan stakeholder aviasi di Indonesia, terutama dengan pihak yang berkaitan ketika melakukan aktivitas plane spotting,” kata dia yang berprofesi sebagai pengacara ini di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Menurut Benny, akta pendirian Komunitas Fotografer Aviasi Indonesia (KFAI) memperoleh pengesahan badan hukum dari Kemenkumham SK nomor AHU-0011461.AH.01.07.Tahun 2019 pada 15 November 2019. Penandatanganan akta pendiriannya dilakukan oleh perwakilan pengurus dan pengawas KFAI, yakni Benny Radja JH Manurung, Ira Purwitasari, dan Yudhie Setiawan, di hadapan Notaris Dewi Sukardi, SH pada 30 November 2019.

Dalam acara penandatanganan itu hadir pula beberapa plane-spotter anggota KFAI. Mereka mewakili semua plane-spotter yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka pengesahan akta pendirian KFAI oleh Kemenkumham dapat dinyatakan bahwa KFAI merupakan komunitas berbadan hukum yang diakui oleh Negara Republik Indonesia. KFAI berkedudukan di Go Work Menara Rajawali, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Benny mengatakan, saat ini KFAI merupakan badan hukum resmi dan sah untuk menjalin hubungan baik dengan stakeholder aviasi di Indonesia. “Jalinan baik ini nantinya akan berdampak positif bagi plane-spotter dalam melakukan aktivitas plane spotting,” ucapnya.

Di Indonesia, kata Benny, memang berbeda dengan perkembangan plane-spotter di luar negeri, yang sudah berkembang. Kegiatan plane spotting yang selama ini dilakukan masih dianggap membahayakan dan belum memiliki payung hukum.

Selama ini, para plane-spotter memotrer pesawat terbang dengan cara melacak (tracking) trafik pesawat terbang ketika akan mendarat atau lepas landas. Menurut Benny, tracking ini dilakukan lewat aplikasi di smartphone, yaitu “Flight Radar” tanpa maksud untuk mengganggu operasional penerbangan.

Hasil tracking tersebut digunakan sebagai acuan saat berburu objek foto pesawat terbang. Tempat atau lokasi (spot) untuk memotret pesawat terbang hanya bisa dilakukan di sekitar area bandar udara. Spot-nya para plane-spotter saat ini juga secara sporadis dicari sendiri. Spot diusahakan di area yang tidak membahayakan, baik secara umum maupun bagi plane-spotter.

Plane spotting merupakan salah satu bidang fotografi dengan objek utama khususnya adalah pesawat terbang dan dunia aviasi secara umum. Bidang fotografi ini memiliki tantangan karena objek utamanya sulit diarahkan (directing) oleh sang fotografer.

Plane-spotter di Indonesia berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang, juga beragam usia. Mereka umumnya memiliki minat di dunia penerbangan dan menyukai pesawat terbang.