Fri. Feb 28th, 2020

Virus Corona, Rute Cina dan Singapura Turun 30 Persen

Terminal 4 Bandara Changi, Singapura. Sumber gambar: Ery.

                                   

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menyebut bahwa maskapai yang mempunyai rute-rute ke Cina dan Singapura adalah yang paling terdampak wabah virus corona. Dia memprediksi telah terjadi penurunan sekitar 30 persen yang dialami maskapai-maskapai rute tersebut.

“Kita memang belum bisa memastikan kerugiannya sendiri, yang punya masalah itu rata-rata adalah (maskapai) yang berhubungan dengan mainland China dan Singapura. Yang lainnya sebenarnya relatif masih baik. Tetapi karena penerbangan ini juga ada sebagian ke Tiongkok kira-kira 30 persen, jadi berkurang rata-rata 30 persen,” ucap Budi di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Untuk menutupi potensi kehilangan tersebut, pihaknya telah telah berdiskusi dengan maskapai untuk memikirkan peluang-peluang yang mungkin dilakukan.

“Untuk opportunity, yang paling masif itu di Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh. Karena memang beberapa saat sebelum kejadian ini, para duta besar (negara) itu bertemu saya untuk dapat connecting flight,” kata Budi.

Oleh karenanya, lanjut Budi, saya minta kepada Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, AirAsia untuk mencari konektivitas ke Asia Selatan. Paling lambat bulan Mei ini untuk buka rute baru, karena perencanaan itu tidak bisa langsung seketika.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mengatakan bahwa insentif ini adalah untuk semua. Menurutnya, dalam menyikapi hal ini harus dipikirkan secara komprehensif supaya dapat bertahan dalam tantangan yang sedang dihadapi. Bukan hanya maskapai, tapi juga hotel dan pihak terkait lainnya.

“Jadi kita mencoba kali ini untuk mendengarkan pemikiran dari maskapai dan kita juga sudah melakukan pembicaraan dengan PHRI dan sebagainya yang terkait dengan pariwisata secara keseluruhan. Jadi saya pikir ini adalah usaha kita untuk bagaimana dapat menghadapi tantangan virus corona ini. Tidak mudah, tetapi kita harus lakukan yang terbaik,” ungkap Wishnutama.

Wishnutama juga menyebutkan bahwa kerugian yang dialami sejumlah pihak yang terdampak wabah virus corona masih terus terjadi.

“Untuk kerugian, ini masih berjalan. Kita tidak tahu (sampai kapan), karena virus corona belum berhenti. Sebagai gambaran, dalam setahun Tiongkok (Cina) menyumbang 2 juta wisatawan dengan total devisa US$2,8miliar,” tandasnya.