Wed. Sep 18th, 2019

Tujuh Pelabuhan Lagi Sudah On Inaportnet

Sistem digitalisasi inaportnet di pelabuhan menunjukkan perkembangan dengan diterapkannya lagi di tujuh pelabuhan. Penerapan inaportnet memang merupakan mandatori agar aktivitas di pelabuhan berjalan lebih cepat dan lancar, serta kompetitif.

“Digitalisasi itu tak bisa dihindari dan tujuh pelabuhan sekarang sudah ‘on’ inaportnet,” kata R Agus H Purnomo, Dirjen Perhubungan Udara pada acara Penandatanganan Pakta Integritas Penerapan Inaportnet di Pelabuhan Pangkal Balam, Bengkulu, Tanjung Pandan, Cirebon, Talang Duku, Benoa, dan Cilacap, di Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Agus menceritakan pengalamannya ketika di Singapura minggu lalu. “Di sana durasi kegiatan kapal sudah lebih cepat; tiap tiga menit kapal sandar.” Maka ia pun mengajak seluruh pihak terkait untuk menerapkan sistem digitalisasi dalam aktivitas kepelabuhanan. “Ayo kita lakukan; let’s do it karena tak bisa tawar menawar lagi.”

Sebelumnya, Direktur Lalu Lintas Angkutan Laut Wisnu Handoko mengatakan, “Kita akan buat seluruh pelabuhan menggunakan sistem digitalisasi. Tahun lalu (2018) sudah 16 pelabuhan menerapkan inaportnet dan tahun ini (2019) 16 pelabuhan lagi. Ini jauh dari cukup karena berdasarkan IMO hal ini harus dilaksanakan. Dalam Asian Single Market, electronic data interchange itu tak bisa digunakan kalau tidak menerapkan inaportnet.”

Dari 16 pelabuhan tahun ini, ada sembilan pelabuhan lagi yang bakal dikejar untuk menerapkan inaportnet. Kesembilan pelabuhan itu adalah Ternate, Samarinda, Kendari, Bontang, Jayapura, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, Pekanbaru, dan Batam.

“Masih ada waktu empat bulan sampai akhir tahun. Tahun depan kami juga akan prioritaskan pelabuhan-pelabuhan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat,” ucap Wisnu.

Menurut Wisnu, pelatihan dan sosialisasi di tujuh pelabuhan tersebut sudah dilaksanakan dan mereka siap menerapkannya. Namun karena penerapannya itu terkait kerahasiaan data, perlu kepercayaan (trust) dari semua pihak terkait.

Memang disebutkan oleh Agus bahwa pada awal penerapannya akan ada hambatan. Namun hal itu bukan kendala. “Kita bisa selesaikan dan kita akan jalankan agar gate keluar masuk di pelabuhan lancar.”

Hambatan yang terjadi, kata Wisnu, biasanya pada pemahaman sistem dan pembiasaan. Namun yang paling penting adalah adanya kepercayaan yang dapat ditimbulkan dengan memberikan data yang akurat dan benar.

“Inaportnet ini akan sangat membantu karena memberikan informasi kapal lebih awal, sehingga akan tahu apakah krunya sesuai ketentuan, muatan kargonya seperti apa, juga status dokumen yang harus disiapkan. Jadi, flow kapal, kargo, dan dokumen itu seiring sejalan,” tutur Wisnu.

Baca ini juga ya!