Fri. Aug 7th, 2020

Tidak Ada Kategori Operator Penerbangan dalam Anugerah Manajemen Keselamatan

                                   

Kategori penyelenggara jasa transportasi udara atau penerbangan tidak diadakan pada Penganugerahan Penilaian Manajemen Keselamatan Penyelenggara Jasa Angkutan Tahun 2019 dari Kementerian Perhubungan. Salah seorang juri menjelaskan bahwa acuan keselamatan pada transportasi udara sudah sangat jelas dan ketat, yang mengacu pada regulasi internasional.

“Jadi yang namanya safety itu kewajiban. Kalau tidak safety, jangan berusaha di sektor transportasi. Saya juga meminta masing-masing operator untuk melakukan self assesment dalam hal keselamatan agar ke depannya masyarakat lebih yakin jika ingin menggunakan moda transportasi umum,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai menyerahkan “Transportation Safety Management Award (TSMA) 2019” kepada para unggulan di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Tentang kenapa tak ada kategori untuk maskapai penerbangan pada ajang penghargaan itu, Dirjen Perhubungan Udara, Polana B Pramesti menegaskan, “Safety merupakan core business penerbangan. Safety is no go item, mandatory, harus, kudu, dalam penerbangan.”

Menurut Budi, tahun ini penilaiannya dilakukan lebih selektif, sehingga pemenangnya lebih sedikit daripada tahun sebelumnya. “Penganugerahan ini kita lakukan dari tahun ke tahun. Tahun ini saya minta lebih selektif agar pemenangnya memang berprestasi dalam keselamatan. Sejalan dengan itu, saya meminta agar yang bagus diberi reward, sedangkan yang jelek punishment, misalnya pencabutan izin,” ucapnya.

Menhub dengan tegas mengatakan agar operator memperihatikan usia kendaraan yang layak demi keselamatan. “Saya juga minta agar sopir-sopir yang suka ugal-ugalan ditindak tegas dengan diberi hukuman yang berat.”

Sebelumnya, Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB), Sekretariat Jenderal Kemenhub, Dedi Cahyadi melaporkan, TSMA bertujuan untuk memberikan motivasi kepada operator penyelenggara jasa angkutan dalam meningkatkan keselamatan. Juga terciptanya komitmen dan kepatuhan bersama antara regulator dengan operator dalam memberikan pelayanan jasa angkutan kepada masyarakat yang aman dan selamat.

“Kegiatan penilaian dimulai dari usulan peserta dari masing-masing direktorat teknis sesuai kategori objek penilaian, peserta ditetapkan bersama dalam rapat pembahasan, sosialisasi penilaian kepada operator peserta penilaian, penilaian di lapangan, penetapan unggulan berdasarkan kategori objek penilaian, dan akhirnya acara puncak, yaitu penganugerahan unggulan penilaian Manajemen Keselamatan Penyelenggara Jasa Angkutan,” papar Dedi.

Ditambahkan bahwa, penilaian meliputi empat kategori penyelenggara jasa angkutan. Yakni 10 operator jasa angkutan jalan, 11 operator jasa angkutan penyeberangan, serta masing-masing lima operator jasa angkutan laut dan operator jasa angkutan perkeretaapian.

Dedi menjelaskan, “Kriteria objek penilaian mengacu pada operator yang memiliki catatan keselamatan yang baik. Memiliki program pelaksanaan perawatan dan operasi yang baik. Memenuhi ketentuan regulasi operasional yang berlaku dan memiliki personel berkualifikasi untuk mendukung keselamatan operasional.”

Penerima TSMA 2019 adalah PT Big Bird Pusaka, PT Sinar Jaya Megah Langgeng, dan PT Rosalia Indah Transport untuk kategori penyelenggara jasa angkutan jalan. Untuk kategori penyelenggara jasa angkutan laut hanya PT Pelni. Dalam kategori penyelenggara jasa angkutan penyeberangan, unggulan I, II, III adalah PT Dharma Lautan Utama, PT Windu Karsa, dan PT Trisakti Lautan Mas. Untuk kategori penyelenggara jasa angkutan perkeretaapian adalah PT MRT Jakarta, PT Kereta Commuter Indonesia, dan PT Railink.

“Penghargaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan semangat penyelenggara jasa angkutan untuk terus meningkatkan aspek keselamatan dalam operasional penyelenggara jasa angkutan,” ucap Menhub Budi.

Foto: BKIP