Teman Bus Diluncurkan Pertama Kali di Palembang

Palembang menjadi kota pertama yang mengoperasikan Teman Bus, layanan transportasi perkotaan berbasis jalan. Teman Bus merupakan kepanjangan dari “Transportasi Ekonomis, Mudah, Andal, dan Nyaman”.

“Ini pertama kali kami lakukan. Palembang merupakan yang pertama di antara lima kabupaten/kota yang mendapatkan program Buy The Service (BTS) di Indonesia,” kata Budi Setiyadi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dalam siaran pers (2/5/2020). Kota lainnya yang menjadi sasaran program BTS adalah Solo, Yogyakarta, Denpasar, dan Medan.

Peresmian peluncuran Teman Bus dilakukan melalui kegiatan secara online. Pada kegiatan itu, Dirjen didampingi oleh Direktur Angkutan Jalan, Ahmad Yani, dan Sekretaris Ditjen Perhubungan Darat, Imran Rasyid, menyaksikan Walikota Palembang Harnojoyo mencoba Teman Bus di Palembang, Sumatera Selatan.

Teman Bus di Kota Palembang merupakan program BTS yang bekerja sama dengan PT Transmusi Palembang Jaya. Hadir sebagai angkutan Bus Rapid Transit (BRT) untuk penunjang mobilisasi masyarakat, yang terintegrasi dengan layanan angkutan massal Lintas Rel Terpadu (LRT). Juga untuk mendukung Trans Musi, layanan BRT dari Pemerintah Kota Palembang, yang sudah beroperasi sejak tahun 2010.

Tersedia 45 Teman Bus di Kota Palembang, yang melayani tiga koridor, yaitu Koridor 1: Terminal Alang Alang Lebar-Dempo, Koridor 2: Asrama Haji-Terminal Sako, dan Koridor 3: Terminal Plaju-Pasar Induk Jakabaring.

Teman Bus ada yang berkapasitas 40 penumpang dengan 20 tempat duduk, ada juga yang berkapasitas 60 penumpang dengan 30 tempat duduk, serta kursi prioritas. Bus ini memiliki pintu masuk low deck di bagian depan dan pintu high deck di tengah.

Untuk saat ini, naik Teman Bus belum dikenakan biaya. Pemerintah memberikan subsidi penuh terhadap biaya operasional layanan yang dilaksanakan oleh operator dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan.

“Dengan layanan yang lebih baik kepada masyarakat, diharapkan lebih banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi publik,” ujar Budi.

Foto: Ditjen Hubdat