Sat. Jul 11th, 2020

Tarif Bus Naik Masih Dimaklumi

                                   

Penumpang angkutan transportasi darat, khususnya bus AKAP dan AKDP, masih sedikit. Pembatasan jumlahnya yang hanya 50 persen dari kapasitasnya juga belum terpenuhi.

Contoh saja waktu Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi meninjau Terminal Pulogebang, Jakarta, pada 17 Juni 2020. “Saya lihat tidak banyak masyarakat yang melakukan perjalanan. Waktu itu dalam satu bus hanya ada empat orang penumpangnya,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Jumat (26/6/2020).

Maka tentang kenaikan tarif angkutan umum pun sempat disinggung oleh Budi. Disampaikannya bahwa beberapa angkutan umum, misalnya Damri yang melayani lintasan dari dan ke bandara Soekarno-Hatta, mengalami kenaikan tarif dari semula Rp50.000 menjadi Rp100.000.

Tentang itu Budi menegaskan, penumpang saat ini masih dalam taraf memaklumi kenaikan tarif tersebut. Dijelaskan pula, penumpang memahami bahwa kenaikan itu untuk menutup biaya operasional yang harus dikeluarkan mengingat jumlah penumpang yang sedikit.

“Nanti (1 Juli 2020) jika kapasitas penumpang sudah diizinkan sampai 70 persen dari kapasitasnya, harapan saya (tarifnya) akan kembali normal,” ucapnya.

Meski demikian Budi mengatakan, walaupun pembatasan kuotanya sudah dinaikkan, apakah permintaan masyarakat sudah kembali normal? “Kalau demand belum normal kembali, masih jauh dari yang diharapkan, maka sepanjang itu operator mungkin saja masih menaikkan tarif karena operasional kendaraan masih sama dengan sebelum Covid-19.”

Disampaikannya pula bawa pihaknya sudah berdiskusi dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) dan Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI). Ada wacana dari kedua asosiasi ini untuk menaikkan tarif sebesar 25-50 persen untuk bus premium.

Pada kesempatan itu, dipaparkan pula tentang tiga fase dalam masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Pemberlakuan tiga fase dan sistem zona merah, oranye, kuning, atau hijau, akan menjadi pembeda yang signifikan dalam penyelenggaraan transportasi darat.

Tiga fase yang membedakan tiap pedoman dan petunjuk teknis penyelenggaraan transportasi darat pada masa AKB dibedakan sesuai waktu. Fase I merupakan pembatasan bersyarat pada 9-30 Juni 2020. Fase II merupakan masa pemulihan atau penyebaran terkendali pada 1-31Juli 2020. Fase III merupakan normal baru (new normal) pada 1-31 Agustus 2020.

“Dengan menerapkan pedoman dan petunjuk teknis yang berbeda sesuai zona dan fase, kita jadi tahu di mana posisi tiap daerah. Kita pun bisa memberikan satu kebijakan yang berbeda. Misalnya, di zona merah tidak boleh sama sekali beroperasi untuk angkutan umum. Kita coba merespons dengan mengakomodasi masukan dari para operator. Kami pertimbangkan berdasarkan perhitungan ekonominya,” tutur Budi.