Tue. Feb 25th, 2020

Sriwijaya Air Targetkan 24 Armada Bisa Terbang Tahun Ini

Armada pesawat Boeing 737-900ER maskapai Sriwijaya Air. Sumber gambar: IndoAviation/Ery.

                                   

Secara total, Sriwijaya Air memiliki 30 unit armada. Berakhirnya kerja sama manajemen (KSM) dengan Grup Garuda Indonesia pada awal November 2019 membuat jumlah pesawat yang tersedia dalam layanan menurun drastis menjadi 9 unit.

Pasca KSM, maskapai milik keluarga Chandra Lie ini berupaya bangkit. Saat ini, jumlah armada yang tersedia dalam layanan telah meningkat menjadi 14 unit.

“Kerja keras seluruh tim besar Sriwijaya Air Group, itu berhasil menambah atau mengembalikan jumlah alat produksi kita. Dari 9 pesawat, sekarang sudah 14 untuk Sriwijaya Air sendiri. Untuk Nam Air sudah 11 pesawat,” tutur Presiden Direktur Sriwijaya Air, Jefferson Irwin Jouwena di kantornya, Tangerang, Senin (20/1/2020).

Baca Juga:

Terpuruk di 2019, Ini Tiga Quick Wins Sriwijaya Air di 2020

Soal Perawatan Pesawat, Sriwijaya Bermitra dengan Partner Lain

Jefferson mengatakan, manajemen berharap pada akhir Januari 2020 akan ada tiga armada lagi yang akan masuk dalam layanan. Namun hingga akhir tahun ini, dia yakin 24 armada bisa masuk kembali dalam layanan operasional.

“Kami targetkan mudah-mudahan akhir Januari ini sudah bisa ada penambahan tiga (pesawat) lagi. Untuk jumlah armada yang direncanakan oleh perusahaan adalah sampai dengan akhir tahun kita akan mengoperasikan 24 pesawat (termasuk 1 unit cadangan) untuk Sriwijaya Air, untuk Nam Air 14 pesawat,” kata Jefferson.

Diungkapkannya, untuk perawatan atau MRO, pihaknya kini menggandeng mitra lain selain GMF.

Baca Juga

Bos Sriwijaya Air: Kita Tidak Ingin Ada Musuh

Sriwijaya Fokus Pulihkan Alat Produksi dan Kepercayaan Publik

“Contohnya Batam Aero Technic, MMF (Subaraya), dan MS Tech (Bandung) Itu yang di lokal. Kemudian di regional kita juga menggunakan dari Malaysia, Thailand dan Singapura. Jadi MRO-MRO itulah yang sedang kita libatkan saat ini,” paparnya.

Setelah pesawat normal kembali, lanjutnya, baru mungkin mayoritas dari rute kita yang sebelumnya kita tinggalkan bisa kita terbangi kembali.