Tue. Feb 25th, 2020

Sidang Emirsyah: Tak Ada Paksaan dalam Pilihan Pengadaan dan Metode Perawatan Pesawat Garuda

                                   

Pelaksanaan program pengadaan pesawat dan perawatan mesin dalam masa kepemimpinan Emirsyah Satar di Garuda Indonesia tidak pernah ada intervensi dan favoritisme. Prosesnya berjalan normal melalui kajian tim dan rapat direksi dengan putusan diambil direksi berdasarkan usulan tim.

Demikian kesimpulan dari kesaksian pada sidang keempat mantan direktur utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (23/1/2020). Saksi yang hadir adalah mantan Direktur Keuangan Garuda, Handrito Hardjono; mantan Direktur Komersial Garuda, Agus Priyanto; mantan VP CEO Office Garuda, Rajendra Kartawiria; dan Manager Accounting Garuda, Norma Aulia.

Tentang pemaksaan pilihan pesawat Bombardier CRJ 1000 dibandingkan pesawat Embraer E190 yang didakwakan pada Emirsyah, disebut tidak benar. Saksi Agus menyatakan, “Soal pemilihan pesawat dan keputusan pengadaan adalah keputusan rapat direksi.” Jadi, pemilihan CRJ 1000 merupakan usulan tim. Disebutkan pula bahwa harga per unitnya lebih murah US$ 3juta dibandingkan Embraer E190.

Begitu pula dengan penetapan perawatan engine dengan metode “Total Care Program” (TCP). Saksi Rajendra menjelaskan, “TCP seperti mekanisme dalam asuransi. Pembayarannya dilakukan berdasarkan jam terbang per bulan. Apabila engine pesawat mengalami kerusakan dan harus diturunkan, akan diberikan engine pengganti. Proses penggantian dan penyediaan mesin pengganti dilakukan oleh Rolls Royce.”

Kata dia, beda dengan metode “Time Material Based” (TMB) yang bersifat fluktuatif. “Apabila terjadi kondisi tidak ada “spare engine” (engine cadangan), biayanya menjadi lebih mahal. TMB memang murah pada awalnya, tapi kompetitifnya tidak bagus. Apabila engine pesawat sedang diperbaiki, pesawat tidak jalan.”

Saksi Agus menambahkan, “Dulu itu ada dua dari enam pesawat Airbus yang tidak bisa terbang karena banyak problem di engine. Namun sejak 2007 dan seterusnya, ketika menggunakan TCP, performa pesawat membaik.”

Sementara itu, saksi Norma menjelaskan tentang “hubungan” Garuda dengan Rolls Royce, yang memiliki “Supplementary Financial Agreement”. Kata dia, setiap ada penyerahan pesawat dengan engine Rolls Royce, Garuda mendapatkan semacam cashback, yaitu “engine consession”. Terungkap bahwa selama periode 2012-2016 Garuda telah mendapatkan cashback dari Rolls Royce senilai total US$ 443,896,345.00.