Tue. Jul 7th, 2020

Soetikno Soedarjo Nyatakan Bukan Perantara dalam Pengadaan Pesawat Garuda

                                   

Saksi Soetikno Soedarjo menyatakan, dirinya adalah “commercial advisor” yang merupakan bagian dari pabrikan. Bukan intermediary atau perantara, sehingga tidak pada posisi dan tidak memiliki kewenangan untuk memberikan pengaruh pada proses pengadaan pesawat Airbus A330 dan Bombardier CRJ1000 Garuda Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Soetikno pada akhir atau penutupan sidang mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (13/2/2020). Saksi lain yang dihadirkan adalah mantan Direktur Teknik Garuda, Batara Silaban; mantan Direktur Umum dan SDM Garuda, Achirina; serta Vice President Corporate Planning Garuda, Setijo Awibowo.

Batara, Setijo, dan Achirina mengungkapkan, tidak ada arahan atau intervensi dalam proses pengadaan pesawat Airbus A330, Airbus A320, dan Bombardier CRJ1000. Pernyataan saksi-saksi ini sama seperti pernyataan saksi-saksi pada sidang-sidang sebelumnya.

Dinyatakan bahwa tim bekerja secara independen dan melakukan analisis. Kemudian tim mengajukan usulan atau rekomendasi dalam rapat direksi. Setelah proses diskusi terbuka, keputusan direksi diambil berdasarkan usulan atau rekomendasi tim.

Hasil keputusan itu juga dimintakan persetujuan dari Dewan Komisaris, yang bisa membatalkannya apabila tidak sesuai dengan keputusan Garuda. Pengadaan pesawat Airbus A330, selain disetujui oleh Direksi Garuda juga mendapatkan persetujuan pemegang saham Garuda saat itu, Menteri BUMN Sofyan Djalil.

Dalam sidang itu, Penasihat Hukum Soetikno, Juan Felix Tampubolon menyampaikan, hal berkaitan whistleblowing system, yang disampaikan oleh saksi Achirina. Kata dia, hal itu sudah ada dan telah ditetapkan dalam peraturan dan ketentuan di BUMN. Sebelumnya, dia sempat mengingatkan Achirina yang pada saat memberikan keterangan beberapa kali terlihat berbisik pada Setijo. Hakim pun sempat menegur para saksi tersebut.

Para saksi juga membenarkan, selama masa kepemimpinan Emirsyah tidak pernah ada pengadaan pesawat yang tidak sesuai prosedur. Garuda pun berhasil bangkit dari ambang kebangkrutan pada tahun 2005. Saksi Setijo menyatakan, sewaktu akan IPO tahun 2011, Garuda membukukan keuntungan Rp1triliun lebih.