Fri. Aug 7th, 2020

Sepotong Kisah Bronco-Bronco TNI AU Tertembak Musuh dalam Misi

Pesawat tempur taktis OV-10 Bronco. Sumber gambar: GoogFon.com..

                                   

‘Kuda Hitam’ pabrikan North American Rockwell, OV-10 Bronco terkenal ‘liar’ kala diterjunkan ke medan tempur. Tak jarang, para penunggangnya pun juga pilot-pilot jempolan yang gemar menyambar-nyambar barisan pertahanan lawan. Namun demikian, mereka juga manusia biasa yang kadang kala tersambar munisi musuh.

Sejak kehadirannya pada September 1976, OV-10F langsung diterjunkan ke medan pertempuran di Timor-Timur (sekarang Timor Leste) hingga menjelang tahun 1990an. TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan kawanan ‘Kuda Liar’ tersebut untuk memperkuat pasukan darat dalam menggempur barisan pertahanan lawan.

Marsdya (Pur) Wresniwiro menceritakan sebagian kecil kisahnya bersama Bronco di Majalah Commando edisiOV-10 Bronco: Kiprah Tempur Si Kuda Liar“. Dalam kurun waktu tahun 1976-1990 sejumlah Bronco TNI AU bersama para penerbangnya tercatat pernah merasakan tembakan musuh.

Saat Wresniwiro masih berpangkat Lettu (Pnb), dia pernah mendapat perintah menerbangan OV-10F Bronco untuk melancarkan Operasi Bantuan Tembakan Udara (Closed Air Support). Sebanyak empat pesawat dikerahkan ke daerah Luro. Flight Leader misi ini Kapten (Pnb) Hanafie Asnan. Wresniwiro bersama Lettu (Pnb) Alimunsiri Rappe sebagai Wingman 2 dan Lettu (Pnb) Titus Suwondo sebagai Wingman lainnya.

Mereka lepas landas dari Baucau untuk melaksanakan bombing, rocketing dan strafing. Serangan dimulai, dari langit ia melihat di bawah banyak bunga api. Tiba-tiba, sayap Bronco S-102 yang ditunggangi Wresniwiro dihadiahi tembakan dari musuh.

Baca Juga:

OV-10F Bronco, ‘Kuda Liar’ AS yang Kenyang Misi Tempur di Indonesia

Tertembak Gerilyawan Fretilin, Herman Prayitno Hampir Gugur dalam Kokpit Bronco

Diakuinya, awalnya dia tidak menyadari, karena saat itu dia tidak melihat adanya kelainan kontrol di pesawat. Dia baru tahu saat pesawat telah didaratkan dan selesai dilakukan after flight check. Teknisi melaporkan bahwa terdapat lubang sebesar tutup gelas di salah satu sayap S-102.

Pengalaman lainnya dialami oleh Kapten (Pnb) INT Aryasa. Dia pernah mendapat tembakan musuh di kaca kokpit. Beruntung kaca itu ketebalannya 20mm, sehingga hanya menyebabkan detok saja.

Penerbang lainnya yang punya pengalaman serupa adalah Kapten (Pnb) Agus Suwarno (alm). Dia pernah tertembak di Soibada. Tembakan musuh mengenai badan pesawat bagian bawah.

Lain halnya dengan yang dialami Kapten (Pnb) Suminhar Sihotang (alm) bersama Lettu (Pnb) Herman Prayitno. Pada saat melaksanakan BTU di selatan Turiscay, pesawat mereka tertembak di kanopi, persis di samping kanan Herman yang duduk di kursi belakang. Peluru gerilyawan Fretilin lewat persis 5cm di depan hidung Herman. Peta yang biasa dia tempel di kanopi tertembus peluru.

Berselang tiga bulan, Sihotang tertembak lagi di daerah Sungai Luse. Kali ini yang duduk di kursi belakang adalah Lettu (Pnb) Gadiono. Tembakan tepat mengenai cable power lever, sehingga salah satu mesin pesawat mati. Meski demikian, pesawat masih bisa membawa mereka sampai ke Dili dan didaratkan dengan selamat di Komoro.