Sat. Nov 16th, 2019

Seperti Ini Pengembangan Industri Pertahanan Nasional 10 Tahun ke Depan

Deretan sejumlah alutsista TNI saat galdi kotor peringatan 74 tahun hari jadi TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sumber gambar: Ery.

Dalam 10 tahun ke depan, pengembangan industri pertahanan nasional akan lebih canggih. Riset dan pengembangannya mengadopsi model yang saat ini telah dilakukan oleh Korea Selatan.

Wakil Ketua Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia (KKIP), Marsdya TNI (Pur) Eris Hariyanto menyimpulkan bahwa dalam 5 atau 10 tahun ke depan, pengguna alutsista atau TNI tetap menggunakan platform yang sama dalam menjalankan tugasnya, namun ada perubahan yang besar dari sisi yang lain.

“Platformnya, Angkatan Laut menggunakan kapal, Angkatan Udara pakai pesawat, Angkatan Darat menggunakan kendaraan-kendaraan tempur. Yang berbeda adalah isinya, yakni kecerdasan buatan (AI) atau robotic, cyber technology, big data & analitic, serta C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance),” terang Eris di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Menurut dia, hal tersebut sudah terlihat di negara-negara besar dengan industri pertahanan yang canggih seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa Barat. Namun kemajuan industri pertahanan negara-negara tersebut juga telah mulai diikuti oleh Korea Selatan.

“Saya pernah dengar sendiri, (lembaga) litbang teknologi pertahanan di Korea Selatan (The Agency for Defense Development/ ADD), mereka punya 7 program prioritas. Dari 7 program tersebut, tidak ada yang lepas dari yang empat itu. Program mereka sampai tahun 2040,” tegasya.

Dia memandang bahwa Korea Selatan dari sekarang sudah melakukan beberapa riset teknologi, yang tidak diberikan oleh negara asal (AS dan beberapa negara di Eropa).

“Mereka sudah bisa. Sebagai contoh, radar AESA. Itu merupakan jenis radar yang terakhir saat ini, walaupun yang punya kemampuan Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa, tapi Korea sudah bisa mengembangkannya sendiri,” ucapnya dengan kagum.

Menurut saya, lanjutnya, teknologi itu ke depan bisa dikuasai oleh industri pertahanan swasta nasional, karena ini bobot teknologinya tinggi.

“Kita dari KKIP mengharapkan industri-industri ini memiliki inovasi ke arah sana, bagaimana bisa mendukung pengguna kita dengan inovasi-inovasi teknologi,” harapnya.

“Dengan platform yang ada saat ini juga tidak masalah, ini pendapat saya pribadi. Jadi bisa memberikan inovasi dalam bentuk alpalhankam maupun nonalpalhankam,” tandasnya.

Baca ini juga ya!        

Leave a Reply