Sejak 1970an Pentagon Belum Temukan Mesin Baru B-52, Kini Giliran USAF yang Cari Sendiri

Sejak pertengahan 1970-an Pentagon telah berusaha mencari pengganti yang cocok dan terjangkau mesin pesawat pembom B-52 Stratofortress. Namun hingga kini mesin pengganti tersebut belum juga didapatkan. Padahal Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) berencana masih akan mengoperasikan pesawat bongsor itu hingga pertengahan abad ini.

Sebagai langkah baru mencari mesin tersebut, baru-baru ini USAF telah mengeluarkan permintaan permohonan baru kepada kontraktor pertahanan untuk memasok mesin baru bagi pesawat tersebut.

Dikutip dari Sputnik News (22/5/2020), setelah banyak berdiskusi, akhirnya USAF mengajukan proposal permintaan (RfP) pada 19 Mei 2020 untuk menggantikan mesin turbofan Pratt & Whitney TF-33 yang selama ini menjadi dapur pacu bagi pembom strategis terbesar AS.

Berdasarkan proposal permintaan tersebut, perusahaan yang menang akan menerima kontrak pengiriman Tanpa Batas Waktu/ Jumlah Tidak Terbatas (ID/ IQ). Kontrak ini mencakup 608 mesin baru dalam beberapa gelombang pengiriman dan jumlah suku cadang tidak terbatas, serta dukungan pemeliharaan, termasuk proses penggantian.

Proposal tersebut akan diberikan pada bulan Juni 2021. Mesin yang akan dibeli berdasarkan kontrak akan berlanjut selama 17 tahun atau hingga 2038.

USAF sebelumnya telah menyatakan setidaknya akan mengoperasikan pembom yang dibangun antara 1955 dan 1962 itu hingga tahun 2050, pada saat itu pesawat akan berusia hampir seabad. Mesin terbaru pada B-52 setidaknya bertahan selama 35 tahun, ketika Pratt & Whitney berhenti membuat TF-33 pada tahun 1985.

Pada Juni 2019, USAF memiliki 58 armada pembom Stratofortress dalam layanan aktif dan 18 unit lainnya sebagai cadangan. Setiap unit B-52 akan membutuhkan delapan mesin.

Dikutip dari Defense News, Pratt & Whitney berencana mengirimkan mesin PW800, yang dibuat untuk beberapa model jet bisnis pribadi. GE Aviation General Electric berencana mengirimkan mesin CF34-10 yang banyak digunakan Bombardier ke kompetisi. Rolls-Royce akan mengikutsertakan mesin pesawat komersial F130 dalam kompetisi.

Baca Juga:

Saab Amankan Pesanan Sejumlah Erieye dari Pembeli Rahasia

Rostec Serahkan Helikopter Ansat Perdana ke EMERCOM Rusia

Flight Global melaporkan, Pentagon telah meninjau kembali masalah pengerjaan ulang B-52 beberapa kali. Awalnya ditangguhkan pada awal 1980-an ketika diyakini Perang Dingin akan berlanjut dan sejumlah besar pembom B-1B Lancers dan B-2 Spirit akan menggantikan B-52 sebelum abad ke-20 berakhir.

Masalah ini muncul lagi pada tahun 1996, 2004 dan 2007, setiap kali ditunda karena kurangnya rencana manfaat-biaya yang dapat diterima. Inisiatif ini dimulai pada tahun 2014, ketika USAF mulai mencari tips efisiensi bahan bakar dari sektor penerbangan komersial.

Mesin baru bukan satu-satunya cara Pentagon berusaha menjaga agar armada B-52 tetap relevan hingga pertengahan abad ke-21.

Selain mencari mesin baru, peningkatan baru lainnya mencakup pengadaan radar AESA. Bahkan peran pesawat di medan perang akan diciptakan kembali sebagai “Rudal”, menggunakan daya angkatnya yang luar biasa untuk mengangkut puluhan rudal jelajah jarak jauh dan senjata hipersonik.

Kehidupan ketiga yang serupa juga sedang dieksplorasi untuk B-1B Lancer USAF, yang telah terbukti mampu dimodifikasi untuk membawa setidaknya 40 rudal jarak jauh baru Pentagon.

Namun, pada tahun 2017, Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal John Hyten yang saat itu menjadi Komandan Komando Strategis AS mengamati bahwa tanpa adanya rudal jelajah nuklir LRSO, “Anda tidak memiliki B-52 sebagai platform yang layak!”