Sardjono Jhony Tjitrokusumo: Kita Kejar Teknologi Terkini

“Airport Solution Indonesia 2019” menampilkan bahasan mengenai studi kasus dan pengalaman terbaik implementasi teknologi 4.0 di bandara dan sektor lain. Salah satunya, studi kasus “Implementation of technology 4.0 in all airport under PT Angkasa Pura I (Persero)”.

Direktur Hubungan Internasional dan Pengembangan Usaha PT Angkasa Pura (AP) I Sardjono Jhony Tjitrokusumo mewakili Direktur Utama Faik Fahmi memaparkan bahasan tersebut. Apa yang sudah dan akan dilakukan penyelenggara dan pengelola 15 bandara di Indonesia ini?

Berikut obrolan dengan Jhony, usai tampil di panggung ajang konferensi dan eksibisi tahunan bidang bandar udara ini di Jakarta Convention Center Senayan, Rabu (4/12/2019).

Apa yang tadi dipaparkan tentang teknologi 4.0 di AP I?
Prinsipnya begini. Melihat kondisi AP I sekarang, kita tertinggal sekali dalam hal teknologi. Kita kan enggak mungkin kejar-kejaran terus sama teknologi. Begitu tahun 2000, (teknologi) yang ada sudah (teknologi) tahun 2020. Terus kita mau bilang, “Okay, kita pakai teknologi 2010”. Itu kan tetap kita masih ketinggalan.
Bagaimana caranya agar kita catch up dengan teknologi? Lupakan (teknologi) generasi tahun 2000 dan tahun 2010. Kita langsung kejar teknologi terkini. Memang mahal, tapi tetap paling murah dibandingkan kalau kita kejar-kejaran (dengan teknologi).

Bagaimana dengan kemampuan sumber daya manusia (SDM)-nya?
Bicara soal orang (SDM), kita harus membentuk yang namanya “IT Force”. Makanya saya datangkan dari salah satu perusahaan software. Saya ambil top management-nya yang memang paham, punya knowledge tentang IT (information and technology); IT yang sesungguhnya. IT kan bukan cuma tahu komputer; cuma tahu mengetik saja. Namun IT yang bisa diimplementasikan untuk bisa mendukung proses bisnis.
Harapannya, pada tahun 2021 kita sudah tidak kejar-kejaran lagi dengan teknologi. Kita akan tumbuh bersama-sama dengan teknologi yang ada atau industri yang tumbuh.

Apa yang sudah dilakukan AP I terkait hal tersebut?
Strategi itu sudah kita implementasikan dalam roadmap. Jadi, semua stakeholder, semua principal, semua sistem integrator, kita ajak bicara untuk sama-sama membangun. Kita sudah punya roadmap IT yang akan kita gunakan untuk program ADI-Trans (Airport Digital Transformation). Dari pertengahan tahun ini (2019) kita sudah mulai. Tahun 2021 itu harus terimplementasi di semua airport kita.
Memang sekarang pilot project-nya banyak kita gunakan di Bali (Bandara I Gusti Ngurah Rai). Kita juga punya Greenfield Airport di Yogyakarta (Yogyakarta International Airport, YIA di Kulon Progo).

Apakah AP I betul-betul akan menerapkan teknologi 4.0 itu?
Teknologi 4.0 kan prosesnya dari mesin ke mesin. Apakah kita betul-betul dari mesin ke mesin (penerapannya)? Yang dimaksud mungkin proses yang fully automatic. Kalau prosesnya yang fully automatic, maka yang lebih bermain itu adalah sistem analitik. Jadi, SOP (standard operation procedures) yang biasanya dilakukan secara manual; dibaca secara manual, ini dibuat otomatis. Tanpa dibaca, tapi alurnya sudah jelas.
Kalau SDM diganti mesin mungkin enggak, tapi otomatisasinya bisa. Otomatisasi kan berarti menggeser peran manusia dalam suatu proses bisnis. SDM kita alihkan ke tempat lain ketika proses otomatisasi ini (berjalan). Atau mungkin SDM yang tadinya berlebih; overload kerjanya, menjadi terbantukan dengan adanya otomatisasi ini.
Sebenarnya yang diotomatisasi itu proses bisnis pengelolaan bandara, bukan layanan di bandara. Seperti saat ini, bagaimana caranya kita menggantikan posisi porter secara keseluruhan? Teknologi sudah ada. Teknologi sudah memberikan (solusi). Ada robot yang bisa mengikuti track. Dari tempat parkir, kita taruh koper dan dibawa langsung ke pesawat; langsung di-load di pesawat. Sudah ada teknologi itu.
Pertanyaannya, “Do you really need that?” Transformasi digital itu kan bicara tentang bagaimana kita mengisi gap atau ketertinggalan kita dan berapa investasi yang akan kita keluarkan. Kalau kita keluarkan biaya yang sangat besar sementara efek terhadap pelayanan atau komersialnya itu kecil? Kita tidak boleh melakukan itu hanya semata-mata mengusung digital transformation. Jadi, segala sesuatunya harus tetap seimbang sesuai dengan visi-misi perusahaan.