Fri. Apr 10th, 2020

Saksi Sidang Emirsyah: Jual Beli Apartemen di Singapura Normal dan Wajar

                                   

Jual beli apartemen Silversea di Singapura merupakan transaksi sesungguhnya yang clear dan proper atau normal dan wajar. Hak dan kewajiban kepemilikan merupakan tanggung jawab Soetikno Soedarjo sebagai pembeli yang sah dari pemilik lama, Emirsyah Satar. Perjanjian tersebut mengikat keduanya berdasar hukum Indonesia, segala hak dan kewajiban telah beralih dari Emirsyah ke Soetikno.

Demikian diungkapkan oleh saksi Andre Rahadian dalam sidang lanjutan mantan direktur utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan Soetikno Soedardjo di pengadilan Jakarta Pusat, minggu ini.

Sebagai pengacara yang membantu penanganan proses jual beli itu, Andre menjelaskan, bahwa transaksi jual beli apartemen Silversea sebagai transaksi jual beli. Tidak ada hubungannya dengan perkara suap. Saat ini apartemen dimiliki oleh Soetikno.

Mengingat pajak yang dikenakan kepada pihak penjual dan pembeli besar, Emirsyah dan Soetikno memutuskan jual beli tidak langsung itu dilanjutkan dengan proses balik nama. Emirsyah tidak pernah menyembunyikan kepemilikannya atas apartemen tersebut.

Meskipun tidak dilaporkan bahwa transaksi melanggar aturan di Singapura, mengingat perjanjian jual beli itu tunduk pada hukum Indonesia, sehingga tidak melanggar ketentuan hukum.

Saksi lain pada sidang itu adalah Victor Agung Prabowo, karyawan departemen teknik Garuda Indonesia. Dia menjelaskan tentang diskusi terkait pengadaan program perawatan mesin (TCP – total care program) dengan Rolls Royce, yang berlangsung alot dan sulit. Kesulitan yang dihadapi tim evaluasi kemudian dilaporkan kepada direksi. “Kesulitan negosiasi di-update ketua tim, Pak Batara, kepada direksi,” katanya.

Setelah melalui proses kajian dan evaluasi oleh tim, kemudian tim menyiapkan rekomendasi. Rekomendasi ini disampaikan, yang kemudian disetujui untuk ditindaklanjuti dalam rapat direksi. Kata saksi Victor, tim tidak pernah diarahkan atau diintervensi terdakwa Emirsyah dan tim telah bekerja independen.

Dijelaskannya, menggunakan perawatan mesin dengan pola TCP, utilisasi pesawat lebih maksimal karena tidak ada pesawat yang grounded. Berdasarkan kontrak, kalau tidak ada mesin akan dipinjamkan oleh Rolls Royce. Jadi, pesawat tetap bisa terbang. “Kalau menggunakan pola perawatan TMB, biayanya fluktuatif dan tidak dapat dipastikan. Maka, perawatan mesin lebih efisien menggunakan TCP.”

Victor juga mengatakan, dalam perjanjian kesepahaman tertanggal 15 Juni 2009 antara Airbus dan Rolls Royce dilampirkan “Financial Assssistance Agreement”. Rolls Royce memberikan Engine Consession senilai USD 26.600.000 per pesawat yang menggunakan mesin Rolls Royce, sehingga Garuda mendapatkan cashback dari Rolls Royce.

Saksi ketiga adalah Hardi Rusli, suami dari Sandrani Abubakar. Sandrani adalah saudari kembar istri dari Emirsyah. Saksi menjelaskan tentang rumah milik mertua Emirsyah, Mia Suhodo. Saksi mengatakan kalau dia melakukan transaksi keluar Rp160juta karena diminta almarhumah Mia untuk pembayaran biaya broker rumah di jalan Pinang Merah II Blok SK No 7-8. Saat itu, ibu mertua saksi mengatakan, broker butuh pembayaran cepat. Selanjutnya, uang saksi telah diganti oleh Emirsyah.

Ketika dikonfirmasi oleh Penasehat Hukum terdakwa tentang kepemilikan rumah tersebut, Hardi menyatakan, “Rumah itu adalah rumah ibu mertua dan dibeli atas keinginan ibu mertua, yang menempati pun adalah ibu mertua. Ketika mertua meninggal, rumah diwariskan ke anaknya, yaitu istri saya Sandrani Abubakar dan saudara kembarnya Sandrina Abubakar.”