Rumuskan Strategi Baru dengan Integrasi dan Kolaborasi, Pulihkan Logistik Indonesia

Pada era transisi menuju adaptasi baru dalam masa pandemi Covid-19 ini, pelaku industri logistik harus dapat melakukan penyesuaian dan merumuskan bentuk strategi baru.

Seiring dengan itu, kebijakan dan dukungan penuh dari regulator dapat mendorong sektor usaha jasa angkutan barang atau logistik agar bisa bertahan, bahkan bangkit kembali secara bertahap. Integrasi dan kolaborasi merupakan dua kata kunci untuk pemulihan industri logistik di Indonesia.

Demikian yang terungkap dalam webinar seri #8 “Strategi Pemulihan Angkutan Logistik pada Masa Pandemi Covid-19, Kamis (1/10/2020). Webinar ini untuk menyebarkan hasil kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Pemulihan kesehatan dan ekonomi harus dilakukan dalam satu kemudi. Instrumennya adalah menekan kurva Covid-19 dengan berbagai protokol kesehatan,” ujar Umiyatun Hayati Triastuti, Kepala Balitbanghub.

Menurut Umiyatun, jika kurva Covid-19 berhasil ditekan, kita bisa mulai dengan Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Jaring Pengaman Sektor Riil (JPSR).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyebutkan, pandemi Covid-19 menyadarkan kita tentang perlunya akselerasi untuk sistem transportasi masa depan.

Smart mobility and logistic, automated & autonomous vehicle yang terintegrasi dengan sistem cerdas akan berdampak pada sistem transportasi jangka panjang,” tutur Hammam.

Di sisi lain, Inspektur Jenderal Kementerian Perhubungan, Gede Pasek Suardika mengatakan, kereta api (KA) sangat berperan dalam mewujudkan kecepatan dan ketepatan distribusi komoditi kesehatan pada masa pandemi.

Pada pascapandemi, KA berperan sebagai penyedia jasa layanan angkutan barang untuk komoditi kesehatan, pangan, dan sandang. Saat ini, perkeretaapian berpeluang untuk perluasan produk layanan angkutan logistik komoditi kemanusiaan pascapandemik melalui kebijakan extending.

“Ide kereta api sebagai tulang punggung logistik itu sudah dari dulu. Kecepatan dan ketepatan menjadi sangat penting,” tutur Gede Pasek.

Selama pandemi, angkutan barang juga mengalami penurunan meskipun tidak terlalu signifikan. Maka perlu strategi pemulihannya untuk mengembalikan dan sekaligus meningkatkan perekonomian nasional.

Bisnis logistik dinyatakan pulih jika sistemnya cukup bisa bertahan dan andal di dalam atau di luar wilayah, baik sedang ada bencana ataupun tidak.

Dalam upaya pemulihannya, respons pihak-pihak terkait sangat bervariasi, bahkan kontradiktif. Kontradiksi ini dapat diselesaikan dengan beberapa prinsip inovasi pelayanan logistik.

Ketika komunitas industri tidak sanggup untuk mengubah bisnis modelnya, terutama karena keterbatasan pendanaan, pemerintah dapat hadir dengan stimulus keuangan. Namun tidak semua industri jasa logitik terkena dampak negatif dari Covid-19, sehingga diperlukan kebijakan pemulihan yang tepat sasaran.

“Dari semua yang sudah dibicarakan, maka mengerucut pada dua hal kata kunci: integrasi dan kolaborasi,” ucap Gede Pasek.

Foto: Indoaviation