Robot Jurnalis, Tantangan Jurnalis Muda

Read Time:2 Minute

Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan melalui ragam jenis robot dan mesin sudah hadir di dunia industri atau manufaktur, yang kemudian mendepak ribuan pekerja manusia dari pabrik. Bahkan saat ini, AI juga masuk ke ranah jurnalisme, ranah yang selama ini identik dengan kemampuan berpikir kritis, logika, dan kepiawaian menulis.

Demikian disampaikan Wakil Ketua PWI Jaya Bidang Antar-Lembaga, Amy Atmanto yang juga sorang jurnalis senior, desainer, dan pemerhati jurnalisme digital. Amy hadir sebagai pembicara dalam Seminar Kuliah Tamu bertajuk “Robot Journalist Sebagai Tantangan Broadcaster Muda” yang diselenggarakan PWI Jaya dan Universitas Mercu Buana di Jakarta, Rabu (15/6/2022).

Apakah robot atau AI akan mengambil alih jurnalisme? “Tidak akan pernah,” Amy mengutip pernyataan tegas Charlie Beckett, Direktur media think tank Polis di London School of Economics, yang baru-baru ini memimpin penelitian terhadap 71 organisasi berita di 32 negara.

Amy memaparkan, laporan penelitian tim Beckett menunjukkan bahwa ruang redaksi umumnya menggunakan AI dalam tiga bidang, yaitu pengumpulan berita, produksi, dan distribusi. Beckett melihat potensi kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan pemrosesan data, dapat dimanfaatkan jurnalis sebagai kekuatan baru. Namun “kekuatan baru” itu membuahkan tanggung jawab baru bagi jurnalis untuk memastikan kebenaran data.

Disampaikannya pula bahwa Gary Cameron dari Reuters menyatakan, jurnalis manusia tetap dibutuhkan untuk membuat templat naskah. Jurnalis manusia juga dibutuhkan karena memiliki “rasa” untuk memilih diksi yang tepat dan sesuai konteks. Hal yang tak bisa dilakukan robot atau komputer.

Ada beberapa aktivitas jurnalisme yang tetap membutuhkan eksistensi jurnalis manusia. Salah satunya adalah hubungan dengan narasumber. Jurnalis manusia terampil dalam mengembangkan hubungan dengan narasumber untuk menggali lebih banyak informasi. Hal ini tidak bisa dilakukan AI.

Di sisi lain, jurnalis manusia bisa adaptasi dengan media sosial. Platform media sosial juga membentuk tren dalam jurnalisme. Semakin banyak ruang redaksi yang menggunakan facebook dan twitter untuk menyampaikan berita secara real time.

Begitu juga dengan jurnalisme merek yang merupakan paduan komunikasi korporat, hubungan masyarakat, dan pemasaran konten. Bentuknya berupa blog, artikel online, dan unggahan media sosial berisi hal positif seputar perusahaan atau produk demi membangkitkan kesukaan terhadap merek tersebut.

“Liputan berita terkini (breaking news) juga sangat sulit dibuat oleh AI,” ujar Amy, seraya manambahkan, “Dibutuhkan jurnalis manusia untuk melaporkan langsung dari lokasi, mengabarkan setiap perkembangan secara intensif, sekaligus bergerak mencari sidebar information untuk mempertajam analisis.”

Paparan tentang robot jurnalis ternyata mendapat respons positif dari peserta. Pesertanya ada sekitar 30 mahasiswa semester 4 dan 6 jurusan Broadcasting Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana yang hadir langsung serta 118 mahasiswa mengikutinya secara online.

Sebelumnya, Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah mengharapkan bahwa seminar kuliah tamu tersebut bermanfaat bagi para mahasiswa sekaligus menjadi motivasi untuk menyelesaikan studinya. “Supaya para mahasiswa broadcast mendapat ilmu langsung dari praktisi media,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Program Studi Broadcasting Universitas Mercu Buana, Dr Suraya Muflihun, MSi mengatakan, “Dengan mendapat ilmu dari praktisi langsung, apalagi praktisi tingkat nasional, tentunya pengetahuan mahasiswa kian bertambah dan tentu hal ini sangat positif.”

Foto: PWI