Sat. Jul 11th, 2020

Rawan Kerusakan di Antena Belakang dan Lapisan Kulit, Pentagon Batasi Penerbangan F-35

Pesawat jet tempur siluman F-35B Lightning II milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Sumber gambar: Ery.

                                   

Jet tempur F-35 Lightning II dilaporkan memiliki dua bagian yang rawan kerusakan, yakni di bagian lapisan kulit dalam yang tersembunyi dan antena di bagian belakang pesawat. Kerusakan berisiko terjadi apabila pesawat ini mengalami penumpukan panas lantaran diterbangkan dalam waktu yang lama.

Terkait masalah tersebut Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) membatasi ketat jam terbang pesawat tempur berkemampuan siluman ini dalam sekali sorti.

Sejumlah kritikus menyebut keputusan Pentagon melumpuhkan kemampuan F-35 untuk terbang dan bertarung. Mereka juga mengklaim pesawat program Joint Strike Fighter ini tidak dapat beroperasi dengan kecepatan tinggi dan menghambat misi.

Kritikan itu mendapat tanggapan dari pihak Lockheed Martin, produsen pesawat tersebut. Pilot uji pesawat supersonik tersebut, Letkol Billie Flynn mengklaim tidak ada skenario pertempuran di mana pilot F-35 mungkin secara tidak sengaja merusak pesawat.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Defence News, Flynn menyebutkan bahwa dia menerbangkan pesawat yang menyebabkan Pentagon membatasi penerbangan supersonik model F-35 tertentu.

“Sorti, dalam model B dirancang untuk Korps Marinir dan model C untuk Angkatan Laut, dirancang mendorong jet ke batas hingga kecepatan maksimum Mach 1,6,” akunya.

Jet tempur generasi kelima itu merupakan program paling mahal dalam sejarah pengembangan teknologi pesawat di AS. F-35C dapat terbang dengan kecepatan tinggi Mach 1.3 selama 50 detik kumulatif, sedangkan F-35B terbatas hingga 40 detik pada Mach 1.3.

Sementara versi F-35A yang digunakan oleh Angkatan Udara AS (USAF), kata dia mampu terbang tanpa batasan durasi di kecepatan puncaknya.

Baca Juga:

Dalam 8 Tahun, TNI AU Kehilangan 2 Jet Tempur BAe Hawk 209

Tegaskan Tak Pernah Batalkan Su-35, Kemhan Sebut Sedang Jajaki F-35

Dikutip dari Popular Mechanics (29/5/2020), Flynn mengklaim kerusakan mendadak diakibatkan karena penerbangan pesawat selama berjam-jam pada suatu waktu. “Tidak ada yang akan melakukan itu, secara taktis. Dan tidak ada skenario pertempuran di mana itu akan terjadi,” ucap Fynn.

Flynn juga mengatakan dia tidak pernah melihat kerusakan fisik yang sebenarnya dari penerbangan dan berspekulasi itu ditemukan oleh para teknisi yang memeriksa jet secara internal.

Selain itu, seorang pilot uji veteran yang menerbangkan F-35 menjelaskan bahwa pembatasan pada jet selama penerbangan supersonik tidak akan mempengaruhi pesawat secara operasional.

Namun, keputusan Pentagon diperkuat dengan adanya kecelakaan besar F-35 milik USAF saat kembali ke Pangkalan Angkatan Udara Hill setelah terbang latih. Roda pendaratan pesawat membuat landasan hancur, dan menyebabkan kerusakan.

Insiden itu terjadi pada Senin, 8 Juni, di Pangkalan Angkatan Udara Hill di Utah. Kecelakaan yang menimpa armada dari Fighter Wing ke-388 itu terjadi ketika baru saja menyelesaikan terbang latih rutin. Pilotnya dilaporkan tidak terluka.

Sementara itu, USAF dikabarkan menghentikan sementara terbang latih di pangkalan. Dikutip dari Air Force Times, dewan peninjau keselamatan akan menyelidiki insiden itu.

Kecelakaan itu adalah yang kedua yang melibatkan pesawat tempur F-35 dalam sebulan terakhir. Pada 20 Mei, sebuah F-35 jatuh di Pangkalan Angkatan Udara Eglin selama terbang latih pada malam hari.