Ramp Check Semua Moda Jelang Nataru, 495 Pesawat Disiagakan

Batik Air

Badan Usaha Angkutan Udara (BUAU) atau maskapai penerbangan menyiagakan 495 pesawat terbang untuk angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020. Armada ini sudah mulai diinspeksi atau dilakukan ramp inspection/check di seluruh 38 bandara untuk penerbangan domestik dan tujuh bandara untuk penerbangan internasional.

Ramp check ini dilakukan rutin, tapi jelang Nataru lebih diintensifkan lagi,” kata Polana B Pramesti, Dirjen Perhubungan Udara, usai jumpa pers Angkutan Nataru 2020 di Jakarta, Senin (9/12/2019).

Di samping itu, Polana juga menekankan agar ketepatan waktu penerbangan (On Time Performance, OTP) dengan target rata-rata 80%. “Diharapkan OTP bisa mencapai rata-rata di atas 80%,” ucapnya, seraya mengimbau seluruh operator agar berempati pada masyarakat untuk menyediakan tiket dengan harga terjangkau.

Demi menjaga keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pun melakukan berbagai langkah antisipatif. Selain melaksanakan ramp inspection, baik pada armada, personel, sarana dan prasarana, serta prosedur penerbangan, juga menganjurkan maskapai agar menggunakan tipe pesawat lebih besar untuk penambahan kapastitas.

Langkah lainnya adalah mempersiapkan penambahan jam operasi bandara dan optimalisasi penggunaan slot time. “Kami juga meminta penghentian sementara pekerjaan sisi udara yang dapat berpotensi mengganggu kelancaran kegiatan penerbangan. Juga ada antisipasi pelayanan dalam kondisi Kahar,” ujar Polana.

Pada kesempatan yang sama, moda transportasi lain, yakni darat, laut, dan kereta api, juga melakukan ramp check serta uji petik demi menjaga keselematan dan keamanan. Dirjen Perhubungan Laut, R Agus H Purnumo menargetkan akan menyelesaikan ramp check kapal-kapal yang berlayar pada 16 Desember.

“Untuk kapal kan dilengkapi laik kelautan, sehingga seluruh kapal layar laik pasti masih hidup. Tanggal 16 Desember sudah siaplah,” kata Agus. Dia juga mengatakan, “Kami sudah melakukan uji petik kapal-kapal, yang saat ini masih berlangsung.”

Indonesia Timur menjadi perhatian utama. “Kami sudah meminta kepada kapal-kapal negara, kapal Pelni, untuk siap stand by. Ada juga kapal cadangan di wilayah timur, terutama yang di Papua, Maluku, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur,” tuturnya.

Agus menambahkan, ketersediaan kapal yang disiapkan adalah hampir 1.300 unit, yang mayoritas untuk pelayaran di wilayah timur. “Kalau di wilayah barat, yang biasanya terjadi lonjakan penumpang adalah di Batam, Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun. Namun di sana kapal-kapal swasta banyak dan cukup baik, sehingga meskipun penumpangnya banyak, relatif bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Perhubungan Darat Cucu Mulyana mengatakan, sejak 20 November sampai saat ini sudah dilakukan ramp check terhadap 10.161 bus yang akan operasi pada Nataru ini. “Dari jumlah tersebut, 70% atau 6.312 bus laik jalan, sedangkan sisanya 30% atau 3.948 bus belum laik jalan,” ungkapnya.

Menurut Cucu, bus yang belum laik jalan itu bukan karena kerusakan berat atau fatal. Dia menyebut kemungkinan tak laik jalan karena rusaknya alat penunjang operasionalnya, yang bisa dibetulkan dalam waktu 1-2 jam.

“Kita akan rekapitulasi terus sampai proses ramp check kita tuntaskan pada H-3, sebelum posko Nataru dimulai. Kita tentu update secara sampling, terutama bus pariwisata dan tempat pariwisata. Kita juga ketahui bahwa angkutan tahun baru itu didominasi kendaraan pariwisata,” ungkap Cucu.

Tak ketinggalan angkutan kereta api (KA). Untuk menjamin keselamatan, Direktorat Jenderal Perkeretaapian sudah melakukan serangkaian ramp check sejak 1 Oktober sampai nanti, 13 Desember. Ada ramp check Standar Pelayanan Minimal (SPM), baik di stasiun maupun dalam perjalanan KA.

Ramp check ini untuk memastikan pelayanannya, misalnya ketersediaan kelengkapan alat dan fasilitas umum dan sudah dilakukan terhadap 109 stasiun dan 104 KA,” jelas Zulfikri, Dirjen Perkeretaapian.

Ramp check lainnnya dilakukan terhadap sarana dan lokomotif. Untuk sarana KA penumpang, 2.075 KA yang terdiri dari 1.848 KA di Jawa dan 277 KA di Sumatera sudah di-ramp check, sedangkan lokomotif jumlahnya 289 lok, yang tersebar di Jawa 245 lok dan Sumatera 44 lok.

Selain ramp check, dilakukan juga inspeksi keselamatan. Bersama dengan PT KAI dan KNKT, Ditjen Perkeretaapian memantau langsung kondisi parasarana dan sumber daya manusia dengan menggunakan KA khusus. Pemantauan dilakukan tiga hari di Lintas Utara dan Selatan Jawa. “Kita ingin pastikan setiap DAOP telah siap untuk melaksanakan angkutan Nataru,” ucap Zulfikri.

Peran Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbanghub) tentu sangat penting dalam memrediksi angkutan Nataru itu. Kepala Balitbanghub Sugihardjo mengatakan, perjalanan masyarakat pada Nataru nanti sudah disurvei secara online kepada 2.500 reponden, tapi yang clear ada 2.300 responden di Jabodetabek (65%), Jawa Barat (20%), dan daerah lain.

“Dari hasil survei itu, 55% melakukan perjalanan mudik Nataru. Pergerakan paling banyak menggunakan kendaraan pribadi 48%, kendaraan carter 2%, bus 8%, dan sepeda motor 2%. Jadi, menggunakan moda darat 60%, moda udara 24%, KA 15%, dan moda laut 1%. Walaupun kecil, tapi penumpang angkutan laut ini jumlahnya signifikan di kawasan timur,” papar Sugihardjo, yang juga memrediksi puncak arus angkutan liburan Nataru pada 20-21 Desember.