Fri. May 29th, 2020

Raih Peringkat idAAA dari Pefindo, Outlook Angkasa Pura I Negatif

Turis asing di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Sumber gambar: DJPU.

                                   

Di tengah lesunya industri penerbangan, PT Angkasa Pura I (AP 1) kembali raih peringkat idAAA dari lembaga pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Namun demikian, outlook perseroan mengalami penurunan dari stabil ke negatif untuk periode 18 Mei 2020 – 1 Agustus 2020.

Selain itu, Pefindo juga menetapkan kembali peringkat idAAA terhadap Obligasi I Seri A, Seri B, Seri C tahun 2016 AP 1 senilai Rp2,5 triliun untuk periode yang sama. Sementara peringkat idAAA(sy) terhadap Sukuk Ijarah I perseroan Seri A, Seri B, Seri C Tahun 2016 senilai Rp500 miliar.

Peringkat tersebut diberikan berdasarkan data, informasi dan laporan keuangan tidak diaudit AP 1 per 31 Maret 2020 serta laporan keuangan audit per 31 Desember 2019. Selain itu juga berdasarkan pemantauan khusus perkembangan situasi terkini akibat dampak pandemi Covid-19.

Baca Juga:

Mulai 25 Mei Industri Penerbangan India Beroperasi Lagi

Songsong Pariwisata 2021, Bandara I Gusti Ngurah Rai Cari Mitra Usaha

“Tahun 2019 merupakan tahun yang cukup menantang dengan situasi industri yang cukup dinamis sehingga hal tersebut berdampak pada tidak tercapainya target perusahaan pada 2019. Merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020 juga turut berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hal ini yang menyebabkan perubahan outlook perusahaan dari stabil menjadi negatif,” ujar Direktur Keuangan AP 1, Andy S. Bratamihardja, Jum’at (22/5/2020).

Andy menyampaikan, outlook negatif disebabkan karena tidak tercapainya target trafik penumpang, pesawat dan kargo pada 2019.

Sementara itu, pandemi Covid-19 berbuntut pada penerapan kebijakan pemerintah untuk membatasi sementara penerbangan domestik dan penutupan sementara penerbangan internasional.

“Walaupun begitu, penyiapan skenario new normal oleh Pemerintah dan penerapannya oleh korporasi sebagai fase baru pada pandemi Covid-19 ini, membawa optimisme bagi sektor bisnis, termasuk industri aviasi, untuk menyesuaikan diri dengan perilaku konsumen yang baru dan mulai bangkit perlahan,” ujar Andy.