Mon. Oct 21st, 2019

Prevalensi Obesitas Pilot Meningkat Tinggi dari Tahun ke Tahun

Personel penerbangan, khususnya pilot, dituntut hidup sehat dan memiliki postur tubuh ideal. Namun saat ini, prevalensi obesitas atau penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan (kegemukan) pada pilot meningkat. Berdasarkan penelitian Badan Layanan Umum (BLU) Balai Kesehatan Penerbangan (Hatpen) tahun 2018, prevalensi atau kelaziman obesitas pada pilot pemegang ATPL (Air Transport Pilot License) meningkat 22,6% dan CPL (Commercial Pilot License) 12,2%.

“Perlu perhatian semua pihak untuk mencegah inkapasitasi gangguan kesehatan pada seluruh personel penerbangan. Ini dilakukan agar mereka bisa bekerja optimal serta memenuhi standar kesehatan fisik dan psikis dari ICAO Annexes dan CASR,” kata Asri Santosa, Direktur Navigasi Penerbangan mewakili Dirjen Perhubungan Udara pada seminar “Resiko Inkapasitasi Personel Penerbangan pada Kondisi Sindroma Metabolik” di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Prevalensi obesitas merupakan salah satu komponen dari kondisi sindroma metabolik pada seseorang. Kepala BLU Balai Hatpen, Sri Murani Ariningsih (Rindu) mengatakan, terkait dengan sindroma metabolik itu pihaknya juga sudah melakukan penelitian sejak tahun 2015.

“Prevalensi sindroma metabolik tahun 2015 sebesar 18,28% dengan komponen terbesar adalah prehipertensi, yaitu 62,28%. Walaupun obesitas bukan komponen terbesar, yaitu 12,07%, tapi perlu perhatian khusus. Ini karena tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, serta profil lemak dan trigliserid yang tinggi berawal dari obesitas,” papar Rindu.

Dari hasil pengamatan Balai Hatpen, prevalensi sindroma metabolik sedikit meningkat dari tahun ke tahun. Berturut-turut dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018 adalah 19,78%, 20,15%, dan 20,56%.

“Ini menarik untuk ditelaah lebih lanjut pada setiap komponennya. Walaupun komponen terbesar pada empat tahun terakhir adalah prehipertensi rata-rata sekitar 60%, tapi prevalensi obesitas meningkat cukup tinggi, yaitu 15,67% tahun 2016, lalu menjadi 21,23% tahun 2017,” ungkap Rindu.

Hasil penelaahan berdasarkan metabolisme, diketahui bahwa komponen sindroma metabolik lainnya, seperti tekanan darah, profil lemak, dan kadar gula tubuh yang terganggu, berawal dari obesitas. Maka penting sekali peran obesitas sebagai indikator gangguan metabolisme dalam tubuh.

Obesitas bisa jadi indikator penyebab hipertensi, gangguan metabolisme gula darah atau insulin, juga diabetes melitus dan gangguan metabolisme lemak. Pada akhirnya hal itu menyebabkan sindroma metabolik, bahkan gangguan kardiovaskukar.

Dari hal itulah, Balai Hatpen mengadakan seminar tersebut untuk menambah pengetahuan san kesadaran tentang sindroma metabolik, khususnya bagi operator atau stakeholder penerbangan, juga regulator. Seminar menghadirkan pembicara tiga dokter spesialis, yakni dr M Sedijono, dr Carmen M Siagian, dan dr Ferdi Afian.

“Tentu saja di sini kita bisa saling berbagi ilmu serta berkolaborasi antara semua pihak terkait untuk mencari jalan terbaik pencegahan sindroma metabolik pada personel penerbangan,” ucap Rindu.

Asri juga berharap, seminar tersebut dapat memberi manfaat, khususnya bagi personel penerbangan. “Agar personel penerbangan terjaga tingkat kesehatan dan performanya, sehingga terujud penerbangan yang selamanya selamat, aman, dan nyaman,” ujarnya.

Baca ini juga ya!