Pertama Kalinya A350-1000 Lepas Landas Secara Otomatis

Pesawat uji coba Airbus telah sukses melakukan lepas landas secara otomatis di bandar udara Toulouse-Blagnac, Prancis. Pesawat jenis A350-1000 itu lepas landas dengan panduan sistem yang berbasis penglihatan.

Saat penerbangan uji coba, pesawat tersebut diawaki dua pilot, dua teknisi penerbangan uji coba, dan satu teknisi penerbangan. Mereka lepas landas untuk pertama kalinya sekitar pada 18 Desember sekitar pukul 10.15 pagi waktu setempat. Mereka melaksanakan delapan rangkaian lepas landas dalam kurun waktu empat setengah jam.

“Pesawat beroperasi seperti yang diharapkan dalam rangkaian uji coba ini. Selagi menyelaraskan pesawat pada landasan pacu, dan menunggu izin lepas landas dari pemandu lalu lintas udara, kami menyalakan sistem kendali otomatis (auto-pilot),” tutur Pilot Uji Coba Airbus, Kapten Yann Beaufils dalam siaran pers perusahaan, Selasa (21/1/2020).

“Kami menggerakkan tuas daya mesin (throttle) ke posisi lepas landas, dan kami memantau kerja pesawat. Pesawat mulai bergerak dan meningkatkan kecepatan secara otomatis, selagi mempertahankan posisi di tengah garis landasan pacu, pada kecepatan rotasi yang tepat sesuai kecepatan yang kami tentukan ke dalam sistem kendali. Hidung pesawat mulai terangkat secara otomatis menuju sudut lepas landas yang diharapkan, dan beberapa detik kemudian kami sudah mengudara.”

Baca Juga:

Kolaborasi dengan Aston Martin, Airbus Luncurkan Seri Khusus ACH130

Tempuh Lebih dari 200 Uji Terbang, BelugaXL Resmi Beroperasi

Sistem pendaratan pesawat konvensional yang mayoritas digunakan saat ini umumnya mengandalkan Instrument Landing Sistem (ILS). Sedangkan, sistem lepas landas otomatis yang diuji coba Airbus ini mengandalkan teknologi pengenalan gambar yang terpasang langsung pada pesawat.

Lepas landas otomatis merupakan tonggak penting dalam proyek Autonomous Taxi, Take-Off & Landing (ATTOL) Airbus yang diluncurkan Juni 2018.

ATTOL merupakan salah satu demonstrator teknologi penerbangan yang sedang diuji coba oleh Airbus, untuk memahami dampak-dampak dari otonomi sistem penerbangan terhadap pesawat. Langkah berikutnya dalam proyek ini mencakup proses taxi otomatis berbasis penglihatan dan pengaturan prosedur mendarat otomatis yang akan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2020.

Dalam pelaksanaan proyek tersebut, otomasi bukanlah misi utama Airbus yang berdiri sendiri. Sebaliknya, Airbus ingin mengkaji teknologi otomatisasi, seiring dengan inovasi-inovasi di bidang lain seperti inovasi materi pesawat, sistem elektrifikasi, dan konektivitas.

Dengan demikian, Airbus dapat menganalisis potensi dari teknologi-teknologi tersebut dalam mengatasi berbagai tantangan di industri penerbangan di masa depan, termasuk peningkatan sistem manajemen lalu lintas udara, mengatasi kekurangan pilot, dan meningkatkan operasi penerbangan secara keseluruhan.

Agar teknologi yang diotomatisasi ini dapat meningkatkan operasi penerbangan dan kinerja pesawat secara keseluruhan, pilot akan tetap menjadi jantung dari seluruh operasi pengendalian pesawat.

Teknologi otomatis merupakan hal penting untuk mendukung kerja pilot, dan memungkinkan mereka memusatkan perhatian lebih pada pengambilan keputusan strategis dan manajemen misi penerbangan, daripada pengoperasian pesawat.