Perlu Dibentuk National Wildlife Hazard Committee untuk Mitigasi Gangguang Burung Liar

IndoAviation – Gangguan burung liar atau bird strike pada pesawat terbang dapat merusak mesin dan badan pesawat. Akibatnya bisa mengganggu keselamatan penerbangan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan pun menerima beberapa laporan insiden bird strike, yang terjadi di bandara-bandara besar di Indonesia.

Terjadi beberapa insiden bird strike di Bandara Soekarno Hatta (Tangerang), Bandara Sultan Hasanuddin (Makassar), Bandara Juanda (Surabaya), dan Bandara Hang Nadim (Batam). Terjadi pula di beberapa bandara di wilayah timur Indonesia.

“Akibat bird strike dapat merusak mesin dan body pesawat, sehingga mengganggu keselamatan penerbangan,” ungkap Capt. M. Mauludin, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Hubud dalam siaran pers, Rabu (18/1/2023).

Indonesia perlu mengantisipasi kejadian bird strike itu. Maka berkolaborasi dengan Civil Aviation Safety Authorirty (CASA) Australia, Ditjen Hubud menyelenggarakan workshop Wildlife Hazard di Jakarta pada 17 Januari 2023.

Workshop Wildlife Hazard Ditjen Hubud bersama CASA Australia di Jakarta. Foto: Ditjen Hubud

Mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Mauludin membuka sekaligus memberikan apresiasi kepada CASA Australia karena telah menginisiasi kegiatan dan kolaborasi tersebut.

Workshop Wildlife Hazard membahas terkait gangguan terhadap operasi penerbangan dari hewan liar, khususnya dari serangan burung liar atau bird strike di sekitar bandara,” ujar Mauludin.

Kebanyakan bandara di Indonesia mrmang berada dekat hutan, persawahan, dan pantai. Ini yang memungkinkan terjadinya serangan dari hewan liar tehadap operasional penerbangan.

Workshop ini penting bagi Ditjen Hubud untuk belajar dan sharing informasi terkait bagaimana suatu negara perlu memiliki National Wildlife Hazard Committee dalam melakukan mitigasi dan menanggulangi adanya ancaman dari binatang liar di bandara,” kata Mauludin.

Pemantauan kegiatan National Wildlife Hazard Committee termasuk dalam State Safety Program. Ini sebagaimana yang diamanatkan dalam Annex 19.

Workshop tersebut, ucap Mauludin, juga salah satu upaya Ditjen Hubud dalam menindaklanjut hasil pertemuan International Civil Aviation Organization (ICAO) Asia Pacific Air Navigation Planning and Implementation Regional Working Group (APANPIRG).

Dalam pertemuan itu dibahas bahwa setiap negara diwajibkan untuk membentuk National Wildlife Hazard Committe untuk mencegah dan mengurangi dampak buruk akibat ganguan hewan liar di bandara dan sekitarnya bagi keselamatan penerbangan sipil.

“Saya berharap dalam diskusi ini tidak hanya memberikan solusi terhadap isu tersebut. Namun kedepannya dapat meningkatka aspek keselamatan penerbangan melalui pembentukan ‘Komite Nasional Bahaya Hewan Liar’ di Indonesia,” tutur Mauludin.

Ditambahkannya, “Pembentukan komite itu melibatkan seluruh stakeholder penerbangan sipil nasional, sehingga dapat memberikan tindakan khusus dan mitigasi dalam pencegahan bahaya hewan liar.”