Sat. Nov 16th, 2019

Wujudkan Penerbangan Seaplane, API Banyuwangi Siapkan Penerbang dan Ekosistem Pendidikannya

Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi sedang menyiapkan ekosistem pendidikan dan latihan bagi penerbang atau pilot pesawat amfibi dan seaplane. Dalam sisa waktu tahun 2019, kegiatan yang dilakukan adalah studi kelayakan dan kajian-kajian. Selanjutnya mulai mengadakan pesawat amfibi dan pertengahan tahun 2020 akan dimulai untuk pembangunan ekosistem itu.

“Sudah saatnya kita punya sekolah yang memiliki seaplane class rating. Kalau pilotnya sudah ready, kita bisa mulai pembangunan penerbangan dengan armada seaplane dan pesawat amfibi di Indonesia,” ujar Genny Luhung Prasojo, Direktur API Banyuwangi dalam Focus Group Discussion (FGD) Konsultasi Publik Studi Pendahuluan Pengembangan Seaplane API Banyuwangi di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Genny mengatakan, untuk menyiapkan program tersebut, pihaknya menyuarakannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan agar sinergi. Disebutkan bahwa sudah ada penetapan 88 kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) yang perlu dukungan akses dan konektivitas. Pemerintah pun akan membangun 10 waterbase dengan pesawat amfibi dan atau seaplane yang menjadi alternatif transportasi intermoda.

API Banyuwangi, kata Genny, akan memasang floats kits di tiga pesawat Cessna 172SP miliknya. Pemasangannya direncanakan di Selandia Baru, di manufaktur yang punya STC (supplemental type certificates). Dicanangkan pula alternatif manufaktur di Wichita, AS, untuk pemasangan floats kits tersebut. Seiring dengan itu, pilot instruktur dan engineer juga disekolahkan untuk mendapatkan rating seaplane.

“Sekarang kita siapkan pesawatnya dulu. Kalau sudah ada pesawatnya, nanti akan ada pertanyaan-pertanyaan: mana pilotnya, regulasinya, area latihan dan operasinya? Semua harus sinergi,” ucap Genny seraya mengatakan, API Banyuwangi berkewajiban untuk membentuk pilotnya.

Sebagai institusi pendidikan, API Banyuwangi akan mengajukan prodi tambahan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di samping itu, bukan hanya memiliki sertifikasi dari otoritas penerbangan sipil Indonesia, diwacanakan pula untuk bersertifikasi EASA (European Aviation Safety Agency).

Sebelumnya, Kepala Bagian Umum PPSDM Perhubungan Udara, Surya Irianta mengatakan, operasional pesawat amfibi sudah ada di Indonesia. Namun belum punya lembaga pendidikan yang secara khusus mencetak sumber daya manusia untuk seaplane. API Banyuwangi menyikapinya dengan menyiapkan program untuk itu.

“Dalam konsultasi publik ini kami ingin mendapatkan masukan-masukan yang komprehensif tentang kelayakannya,” ujar Surya.

Pada kesempatan tersebut, Edwin Soedarmo dan Ikhsan Amin dari PT Kreasi Cipta Konsultan memaparkan hasil studi dan kajian yang sudah dilakukan terkait pengembangan seaplane sejak awal tahun 2019 dan mulai dilaporkan pada 12 Juni. “Prosesnya panjang, apalagi belum ada regulasi yang spesifik mengenai seaplane ini,” ucap Edwin.

Sementara itu, Ikhsan mengatakan, API Banyuwangi memiliki aspek strategis untuk membangun seaplane. Institusinya sudah berstandar internasional sejak Oktober 2019. Lokasinya sangat potensial; di Banyuwangi yang tumbuh pesat dengan mengedepankan sektor pariwisata.

Sekarang saatnya mengkaji, di mana lokasi yang tepat untuk membangun waterbase sebagai area latihan. Ada tiga alternatif lokasi, yakni di Marina Boom, Pantai Blimbingsari, dan Pantai Bedul. “Kajian untiuk membangun waterbase ini harus mendalam. Tanpa waterbase, pendidikan dan latihan seaplane itu tak akan lancar,” kata Ikhsan.

Dari Pemkab Banyuwangi pun hadir memberikan gambaran tentang lokasi-lokasi bakal waterbase itu. Namun senada dengan Ikhsan, kajian mendalam perlu dilakukan. Apalagi di lokasi itu juga ada yang terkendala banyaknya obstacle, berada di kawasan konservasi alam, dan berbenturan dengan kegiatan keseharian masyarakat nelayan setempat.

‘Kuncinya memang di pemerintah daerah setempat. Kalau pihak pemda tak mendukung, terutama dalam pembangunan infrastruktur waterbase, kita tidak bisa apa-apa,” ungkap Genny.

Membangun penerbangan dengan operasional pesawat-pesawat amfibi dan seaplane di negara archipelago ini sudah selayaknya mendapat dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan. Seperti diungkapkan penggagas N219 Andi Alisjahbana dan Program Manager N219 Amfibi PT Dirgantara Indonesia, Budi Sampurno.

“Banyak manfaat dari operasi pesawat amfibi di Indonesia. Bahkan kegunaannya bisa berkali-kali lipat daripada pesawat fixed wing atau helikopter,” ujar Andi.

Pencanangan N219 Amfibi di PTDI pun sudah dimulai. Kata Budi, perlu penyempurnaan rancangan N219 dari yang sekarang untuk menjadikannya pesawat amfibi. “Targetnya, tahun 2024 mendapatkan sertifikasi,” ucapnya.

“Kita harus memulainya, bukan hanya sekadar wacana. Ini yang kami lakukan untuk mewujudkan penerbangan seaplane di Indonesia,” pungkas Genny.

Foto pesawat amfibi: PTDI

Baca ini juga ya!