Fri. Feb 28th, 2020

Peneliti Puslitbang Transportasi Udara Dibekali Kemampuan Analisis Kebijakan

                                   

Masih sering terjadi, suatu kebijakan yang diambil pemerintah tidak sesuai dengan wujud yang diharapkan. Sering juga kebijakan mempengaruhi sektor lain dan membuat sektor lain itu terganggu.

Hal ini terjadi juga di sektor transportasi udara, sehingga mendorong Puslitbang Transportasi Udara Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbanghub) untuk mencari solusinya.

Solusi itu adalah membekali para penelitinya dengan kemampuan analisis kebijakan. Pembekalan itu dikemas dalam pelatihan bimbingan teknis (bimtek) oleh System Dynamic Bandung Bootcamp (SDBB),
wahana litbang keilmuan system dynamics (sysdyn) di Indonesia.

Adalah Kapuslitbang Transportasi Udara Capt Novyanto Widadi yang menggagas sinergi antara Puslitbang Transportasi Udara dengan SDBB. “Ada tiga tahap bimtek yang akan dilakukan dalam tiga hari, yaitu introduction, intermediate, dan advance. Pada tahap advance diharapkan para peneliti mampu menggunakan metodologi system dynamics dengan fenomena kompleks secara mandiri,” tuturnya pada pembukaan bimtek tersebut di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Bimtek tersebut dibimbing langsung oleh Muhammad Tasrif, Principal Sysdyn SDBB. “Tadi terungkap hal yang menjadi persoalan. Penerbangan perintis, misalnya. Ini kan salah satu strategi untuk mengurangi keterpencilan daerah yang tak terjamah. Harapannya yang terpecil itu jadi terhubung dan tak terpencil lagi. Namun kenyataannya terbalik. Daerah itu sudah terhubung, tapi penerbangan perintis jalan terus,” ungkapnya.

Menurut Tasrif, fenomena seperti itu ada perilaku yang disebut dynamic complexity. Para peneliti harus mengubah cara berpikirnya. Hal ini yang, kata dia, pelan-pelan ditanamkan dalam bimtek tersebut.

Novi mengatakan, salah satu visi Balitbanghub adalah memberikan masukan kepada para pengambil keputusan dalam bentuk pertimbangan ilmiah yang tepat waktu dan aplikatif. Balitbanghub juga melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka penetapan kebijakan transportasi.

“Untuk menghasilkan kebijakan yang optimum, diperlukan tools atau pisau analisis yang komprehensif dalam bentuk studi teknokratik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tuturnya.

Tasrif menjelaskan, secara garis besar, pendekatan metodologi dalam suatu karya ilmiah dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu pendekatan kotak hitam (black box) dan pendekatan struktural.

“Pendekatan kotak hitam didasarkan pada syarat ketersediaan data. Secara implisit, pendekatan ini mengkaji suatu fenomena menurut cara berpikir satu arah, seperti sebab terhadap akibat; lateral thinking,” ujarnya.

Dikatakannya, dalam pendekatan struktural, fokus studi penelitian tidak pada data, melainkan pada struktur fenomena dan perilakunya. Pendekatan ini didasarkan pada paradigma sistem thinking.

Dalam pendekatan sistem thinking dikenal adanya suatu paradigma yang menyatakan bahwa suatu perubahan perilaku atau dinamika dimunculkan oleh suatu struktur unsur-unsur pembentuk yang saling-bergantung (interdependent).

“Dinamika sistem atau system dynamics merupakan strategi yang cocok untuk menjawab pertanyaan penelitian ‘how’ dan ‘why’ dalam pendekatan struktural,” ungkap Tasrif.

Presiden Direktur DAS Aviation Training Center (DATC) SDBB, Ikhsan Amin mengatakan, SDBB sebagai wahana litbang keilmuan sysdyn di Indonesia mendapat pembinaan langsung dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Juga sebagai Ref. Venana System USA untuk Indonesia.

“SDBB banyak mendapat kepercayaan negara donor untuk kajian kebijakan pembangunan nasional,” ucapnya.