Pembangunan Tahap I Bandara Jenderal Soedirman Butuh Dana Rp500miliar

Direktur Utama Angkasa Pura II (AP II), Muhammad Awaluddin mengatakan, pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman (BJBS) akan dilakukan dalam 3 tahap. Pada tahap pertama akan dibutuhkan dana sebesar Rp500miliar.

Dia menerangkan, pada tahap I akan dibangun gedung terminal penumpang berkapasitas 98.812 orang per tahun. Lalu pembangungan tahap II gedung terminal ditingkatkan kapasitasnya menjadi 440.440 penumpang per tahun. Pada tahap III menjadikan terminal berkapasitas 597.645 penumpang per tahun.

“Pada tahap awal, investasi yang disiapkan Rp500miliar untuk membangun terminal penumpang dan runway,” ungkapnya, Sabtu (11/5/2019).

Dia optimis jumlah penumpang akan terus tumbuh setiap tahunnya hingga bisa menembus sekitar 600.000 penumpang per tahun.

“Seiring juga dengan bergeliatnya perekonomian dan pariwisata, karena terbukanya konektivitas udara di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan ini,” imbuhnya.

Rencananya, pada tahap I bandara akan melayani penerbangan dengan pesawat sekelas ATR 72-600. Setelah dilakukan pengembangan tahap III, bandara ini bisa didarati pesawat sekelas Boeing 737 dan Airbus A320.

“Diperkirakan pergerakan pesawat bisa mencapai sekitar 7.500 per tahun,” kata Awaluddin.

Dia mengatakan, AP II saat ini tengah melakukan persiapan pembangunan infrastruktur bandara. Pekerjaan yang dilakukan mulai dari pembersihan lahan, mendirikan pagar bandara, dan membangun gedung Project Implementation Unit (PIU).

“Setelah persiapan usai dilakukan, pekerjaan selanjutnya adalah membangun terminal penumpang dan runway. Kami tengah melakukan persiapan pembangunan infrastruktur setelah sebelumnya tahapan administrasi sudah usai dilalui,” terangnya.

Proyek BJBS berlokasi di kawasan Pangkalan Udara TNI AU Jenderal Besar Soedirman di daearah Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

Pada April 2019, AP II dan TNI AU menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sehingga pembangunan infrastruktur sudah dapat dimulai. AP II dan TNI AU juga telah menyepakati Daerah Lingkungan Kerja (DLKr).

DLKr I seluas 4,42 hektare untuk diusahakan sebagai bandara meliputi terminal kargo, terminal penumpang, bangunan operasional atau perkantoran dan fasilitas sisi darat lainnya.

Selajutnya, DLKr II seluas 43,5 hektare guna penggunaan bersama (penerbangan sipil dan militer) meliputi runway, RESA (runway end safety area), stopway, taxiway, PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran), fasilitas bersama, dan pagar pengamanan bandara.