Sat. Nov 16th, 2019

Pecah Kongsi Lagi dengan Garuda, Sejumlah Penerbangan Sriwijaya Tertunda

Armada pesawat Sriwijaya Air, Citilink Indonesia dan Garuda Indonesia di Hanggar 2 GMF AeroAsia. Sumber gambar: Ery.

Pihak manajemen Garuda Indonesia menegaskan bahwa Grup Sriwijaya Air tidak akan lagi menjadi bagian dari grup maskapai pelat merah tersebut. Padahal kedua pihak baru saja kembali rujuk pada 1 Oktober lalu.

Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia, Iwan Joeniarto mengatakan dalam pernyataan resminya bahwa saat ini Sriwijaya Air sudah sedang melanjutkan kegiatan bisnisnya sendiri. Baik Sriwijaya Air maupun NAM Air tidak lagi berada di bawah naungan nama besar Grup Garuda Indonesia.

“Kami merujuk pada status kerja sama manajemen saat ini antara PT Sriwijaya Air dan PT Citilink Indonesia-anggota Grup Garuda Indonesia. Karena keadaan dan beberapa hal yang belum diselesaikan oleh kedua belah pihak, Kami menyesal memberi tahu Anda bahwa Sriwijaya sedang melanjutkan bisnis sendiri,” kata Iwan.

“Dengan demikian, Sriwijaya tidak akan lagi menjadi anggota Garuda Indonesia Group. Hubungan antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group akan dilanjutkan pada basis bisnis-ke-bisnis,” tegasnya.

Terhentinya kerja sama antara kedua belah pihak berdampak pada sejumlah penerbangan Sriwijaya Air dan NAM Air. Terjadi penundaan jadawal penerbangan, dan hal tersebut telah dikonfirmasi oleh pihak Sriwijaya Air.

Operasional Sriwijaya Air Group berpotensi terkendala karena Salah satu kendala operasional yang paling mungkin terjadi adalah penundaan sejumlah jadwal penerbangan.

“Iya (layanan terganggu karena terhentinya kerja sama dengan Garuda Indonesia,” tutur Direktur Teknik Sriwijaya Air, Romdani Ardali Adang, seperti dikutip CNN Indonesia, Kamis (7/11/2019).

Romdani juga mengungkapkan bahwa layanan operasional di sejumlah wilayah juga terganggu karena perusahaan belum memenuhi kewajibannya kepada Gapura Angkasa (konsorsium Garuda, AP I dan AP II).

Pada kesempatan yang berbeda, Komisaris Sriwijaya, Air Jeff Jauwena menjelaskan bahwa potensi penundaan penerbangan akibat terhentinya layanan kebandarudaraan tersebut.

Namun, Jeff tidak mengungkap secara pasti jumlah penerbangan yang akan tertunda. “Pasti ada delay. Ini kami coba rapatkan untuk cari solusinya,” tambahnya.

Jeff menyebut penghentian layanan tersebut dilakukan secara mendadak berdasarkan keinginan dari pihak Garuda Indonesia.

Kondisi ini membuat sejumlah layanan kebandarudaraan, seperti ground handling, check-in, dan aktivitas penunjang penerbangan lainnya harus dilakukan secara mandiri oleh Grup Sriwijaya sementara waktu.

“Itu memang iya. Itu permintaan mereka (Gapura Angkasa), tapi secara mendadak juga permintaannya itu. Kemarin saya juga nggak tahu alasannya,” ungkap Jeff.

Baca ini juga ya!