Pasar Kerja Lulusan Sekolah Tinggi Bidang Penerbangan Terbuka Luas

STTKD

Kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di sektor transportasi udara atau penerbangan dan kedirgantaraan masih terbuka lebar dan luas. Memang bukan penerbang, yang sampai saat ini masih surplus, tapi bidang kerja lain yang tak kalah menarik. Sebut sebagai awak kabin, petugas ground handling, juga petugas aviation security (avsec), teknisi pesawat, dan Air Traffic Controller (ATC).

Hal tersebut terus dimasyarakatkan, salah satunya oleh Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) yang didirikan pada 1 Oktober 1994 di DIY Yogyakarta. STTKD ingin mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang penerbangan secara sistematis dan ilmiah melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

“Sekolah kami memiliki program pendidikan untuk mencetak sumber daya manusia di bidang penerbangan. Ada S1 Teknik Kedirgantaraan, D4 Manajemen Transportasi Udara, D3 Aeronautika, D3 Manajemen Transportasi, juga D1 Awak Kabin dan D1 Ground Handling,” ujar Vidyana Mandrawaty, Pelaksana Harian (PLH) Ketua STTKD ketika ditemui di kantornya di Yogyakarta, Sabtu (7/12/2019).

Usai penandatangan MoU antara STTKD dengan ICYM Malaysia.

Vidyana pun kian aktif mengajak para profesional dan ahli di bidang penerbangan untuk menularkan pengetahuan dan keilmuannya bagi peserta didik STTKD. Hal ini dilakukan, kata Vidyana, supaya kualitas pendidikan dalam wadah bagi pemuda-pemudi calon tenaga profesional di bidang kedirgantaraan ini terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Kerja sama dengan partner dari dalam dan luar negeri pun dilakukan, seperti dengan ICYM Malaysia dan Hanseo University, Korea Selatan. Begitu juga dengan RUDN University of Moscow, Russia. Semua ini untuk meningkatkan daya saing, yang diharapkan mencapai taraf global.

Latihan praktek calon awak kabin di lapangan.

“Pagi ini (9/12/2019) ada kegiatan perekrutan dari AirAsia Indonesia. Mereka datang ke kampus langsung menyeleksi para peserta didik STTKD,” ungkap M Wasfan Wahyu Widodo, Wakil Ketua 4 Bidang Humas dan Protokol, Hukum dan Kerj Sama serta Tracer Study dan Pusat Karier STTKD, menggambarkan bahwa pasar kerja sudah menanti dan menyambut lulusannya.

Pembangunan SDM memang menjadi salah satu fokus dalam visi pemerintahan saat ini untuk Indonesia Maju. Sejak dalam kandungan, usia balita, masa sekolah, hingga pendidikan tinggi dan menjadi profesional, menjadi prioritas. STTKD pun mengambil bagian dari prioritas pembangunan SDM tersebut.

Pendirian STTKD tidak terlepas dari peran mantan Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) Republik Indonesia Marsda TNI (Purn) Udin Kurniadi. Dia masih berkiprah dan aktif dalam program-program pengembangan STTKD, yang saat ini mendidik sekitar 4.500 peserta didik.

Kunjungan balasan STTKD ke Hanseo University, Korea Selatan, sebagai tndak lanjut kerja sama antarkeduanya.

“Kami pun ingin menambah prodi dari yang ada, seperti untuk pendidikan avsec. Kami sudah mengajukannya pada Direktorat Keamanan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara,” ujar Vidyana, seraya menambahkan, “STTKD sekarang sudah memiliki sertifikasi AMTO 147D-17 dan untuk flight attendant 142D-17.”

Untuk praktik pendidikan dan latihannya, STTKD memiliki pesawat Boeing 737-200, Cessna 150, juga Cessna 402 hibah dari Whitesky Aviation. Di fasilitas yang mengisi area praktiknya itu, para peserta didik melakukan simulasi untuk layanan di kabin dan pengenalan pesawat, termasuk mesin, kokpit, dan komponen lainnya.

UKT drum band banyak diminati peserta didik STTKD.

Bukan hanya pendidikan formal, kegiatan ekstra kurikuler atau UKT pun dilaksanakan dengan semangat. “Mereka banyak yang ikut kegiatan drum band. Namun UKT tari, rampak gendang, aetomodelling, dan jurnalistik, juga tak sepi peminat,” kata Vidyana.