Padat Karya Bantu Masyarakat Sekitar Bandara Tebelian

Read Time:2 Minute

Keberadaan Bandara Tebelian di Sintang, Kalimantan Barat, memberikan dampak strategis bagi wilayah sekitarnya. Lima kabupaten, yaitu Sintang, Melawi, Sekadau, Sanggau, dan Kapuas Hulu, dilayani melalui penerbangan dari dan ke bandara ini.

Di samping itu, bandara juga memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang masih menganggur, setengah pengangguran, dan keluarga miskin, melalui program padat karya. Pelaksanaan program ini pada Senin (18/2/2019) pun ditinjau Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi beserta Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti, juga Bupati Sintang Jarot Winarno, bersama pejabat lain.

Tentang Bandara Tebelian, Budi mengatakan bahwa Pemerintah membangun konektivitas, termasuk melalui Sintang. “Sintang sebagai salah satu daerah utama di Kalimantan bagian barat-tengah jadi mudah dijangkau dengan adanya Bandara Tebelian yang sudah selesai dibangun dan dioperasikan,” tuturnya.

Budi menambahkan, “Kita bukan membangun konektivitas di Jawa saja, tapi di seluruh Indonesia dengan tujuan menyatukan NKRI. Dengan bandara ini menyatukan lewat udara.”

Jarot mendukung penuh pembangunan dan pengoperasian Bandara Tebelian. Dia menjelaskan bahwa moda darat pun tetap beroperasi untuk memenuhi konektivitas antardaerah. “Dari sini bisa menjangkau ke Nanga Pinoh dan Pontianak,” katanya, menerangkan jalur jalan dari gebang bandara.

Sementara itu, Polana menjelaskan bahwa program padat karya Bandara Tebelian dilaksanakan dengan anggaran Rp68,1juta. Jumlah pekerja yang bisa diserap 141 orang, khususnya warga masyarakat sekitar bandara.

“Program padat karya diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan daya beli masyarakat desa. Di samping itu juga dapat menguatkan rasa kebersamaan dan gotong royong,” ujar Polana.

Pada kesempatan yang sama, Kepala UPBU (Unit Penyelenggara Bandar Udara) Tebelian Ditjen Perhubungan Udara Patah Atabri mengungkapkan, padat karya di Bandara Tebelian ini pertama kali dilakukan. Jenis pekerjaannya meliputi pemeliharaan gedung dan bangunan, termasuk membersihkan jalan akses masuk ke bandara.

Bandara Tebelian, yang berjarak 15 kilometer dari kota, berada di areal hibah dari Pemkab Sintang seluas 144,07 hektare. Terminalnya memiliki luas 2.000 meter persegi dengan landasan pacu 1.820 x 30 meter, taxiway 160 x 18 meter, dan apron 220 x 60 meter. Sebelumnya Sintang memiliki Bandara Susilo, yang letaknya di tengah kota, dan sekarang areanya dikembalikan pada Pemkab Sintang.

Puluhan hektare area untuk perluasan Bandara Tebelian sudah dibebaskan Pemkab Sintang, walaupun sekarang belum dihibahkan untuk dikelola UPBU. Seperti area dari pagar bandara sampai gerbang seluas sekitar 9 hektare yang masih milik Pemkab Sintang. Begitu juga sekitar 18 hektare di sisi bandara, yang akan diperuntukan bagi perpanjangan landasan dan pembangunan terminal kargo.

Patah mengatakan, setiap hari ada dua penerbangan reguler dari Bandara Supadio, Pontianak, ke Tebelian. Kedua penerbangan itu dioperasikan Wings Air dan NAM Air dengan pesawat ATR 72-600. Sebelumnya NAM Air terbang dua kali sehari, bahkan ada pula penerbangan Garuda Indonesia.

“Garuda stop operasi dulu karena kabarnya pesawat ATR-nya akan dioperasikan oleh Citilink,” tutur Patah, yang berharap ke depan jika landasan diperpanjang dan bisa didarati pesawat jet sekelas Boeing 737-800NG, penerbangan akan tambah ramai, penumpang dan kargo udara pun bisa tumbuh.