N250 Jadi Koleksi Museum

Assalamualaikum semua …

Akhirnya pesawat N250 Gatotkoco tamat riwayatnya. Sore ini (26/8/2020), pesawat masterpiece dari BJ Habibie ini diresmikan sebagai penghuni Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta.

Setelah dihibahkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kepada Muspusdirla pada Rabu (19/8/2020), fuselage (badan pesawat) prototipe pertama (PA-1) N250 ini diberangkatkan dari Bandung ke Yogyakarta. Diangkut truk trailer menempuh perjalanan darat dengan jarak kurang lebih 567 km dan tiba pada fajar pagi, Jumat (21/8/2020). Setibanya di Muspusdirla, N250 dirakit ulang dan siap diresmikan melengkapi koleksi museum.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI Fajar Adriyanto menjelaskan, pesawat kebanggaan RI itu akan dijadikan monumen yang bisa dilihat masyarakat. “Sebagai pertanda bahwa bangsa Indonesia mampu membuat pesawat terbang dengan teknologi canggih, yakni fly by wire,” ujarnya.

Sebelumnya, PTDI melakukan proses pembongkaran pesawat. Semua panel akses di bagian utama, baik engine, propeller, maupun struktur utama pesawat N250 seperti body, wing, dan vertical stabilizer, dilepas. Disebutkan bahwa pembongkarannya mengedepankan safety dan kehati-hatian agar bagian-bagian struktur pesawat tidak rusak.

Sebagai kenang-kenangan, Indoaviation sempat menulis ulang kisah N250 berseri “Ini Cerita Pesawat N250” (1-64) mulai 1 April 2020 sampai dengan 3 Juni 2020. Cerita ini disadur dari edisi koleksi majalah Angkasa, yang terbit pada tahun 2014.

Pada saat itu, semangat untuk membangun pesawat terbang lagi memang sedang bergelora. PTDI mulai gencar mengenalkan pesawat rancangannya N219 dan Regio Aviasi Indonesia (RAI) mendesain R80. Namun saat ini, semangat itu tak lagi bergelora. Sampai akhirnya N250 pun tidak lagi menjadi koleksi pajangan PTDI.

Salah seorang engineer yunior IPTN waktu itu, Fetri Miftach menyarankan, N250-PA1 sebenarnya bisa dijadikan laboraturium kecil yang lengkap untuk aircraft systems. Semua ada: mechanical, electrical, hydraulics, avionics, flight controls, actuation systems. Mahasiswa bisa belajar dan mengoperasikan langsung semua sistem tersebut, termasuk belajar proses engineering-nya.

“Dalam beberapa kesempatan, bersama pak Chris dan pak Sumarwoto (pilot uji N250) saya sempat berkunjung ke pabrikan di luar negeri. Mengunjungi Star City dan Zhukovsky, mencoba Tu-172 flight test bed. Happy times and sad memories,” ucapnya.

Memang sedih karena saya sempat pula mengikuti proses pembangunan pesawat canggih itu. Bangga Sang Gatotkoco terbang perdana pada 10 Agustus 1995 serta sempat keliling Eropa dan Timur Tengah pada tahun 1997.