N219 Bakal Dapat Sertifikasi pada Akhir 2020

Pesawat N219 Nurtanio dimungkinkan untuk mendapat sertifikasi tipe (type certificate) pada akhir tahun 2020. Setelah terbang perdana pada 16 Agustus 2017 dan diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden Jokowi pada 10 November 2017, pesawat hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) ini memang terus melakukan serangkaian uji terbang.

“Dengan dua prototipe sebagai wahana sertifikasi uji terbang, kegiatan flight test bisa dioptimalkan karena tidak hanya bertumpu pada satu pesawat. Ini memungkinkan bisa tercapai type certificate pada akhir tahun 2020,” ungkap Palmana Banandhi, Kepala Program N219 PTDI dalam siaran pers, Selasa (10/11/2020).

Untuk mempercepat proses sertifikasi uji terbang, PTDI memang membuat dua prototipe N219, yang disebut Prototype Design 1 (PD-1) dan Prototype Design 2 (PD-2). Sampai saat ini, kata Palmana, PD-1 telah menjalani 231 flight cycles dan 256 flight hours, sedangkan PD-2 139 flight cycles dan 170 flight hours.

Dalam pengujiannya, kedua prototipe menjalani pengujian masing-masing. PD-1 untuk menyelesaikan pengujian aircraft performance, karakteristik kestabilan dan pengendalian, serta uji terbang struktur pesawat. Sementara PD-2 untuk pengujian sub sistem pesawat, seperti avionic system, electrical system, flight control, dan propulsion.

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh otoritas kelaikudaraan sipil, dalam hal ini yang berwewenang di wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Direktur DKPPU, Dadun Kohar menjelaskan, proses sertifikasi N219 di antaranya meliputi pemeriksaan technical documents, ground test, flight test, dan conformity process. “Proses conformity diperlukan untuk memastikan as design sama dengan as built dari pesawat terbang tersebut,” katanya.

Pemeriksaan technical documents, kata Dadun, dilakukan dengan mengacu kepada CASR Part 23. Hal ini terkait dengan pemenuhan persyaratan desain yang dilakukan oleh PTDI untuk pesawat 19 penumpang itu. “Begitu pun dengan test flight, dilakukan untuk memperoleh data yang akan digunakan sebagai salah satu syarat CASR Part 23,” ucapnya.

Foto: PTDI