Mudik Gratis Nataru bagi Difabel, 17 Naik Pesawat 50 Naik Bus

Penyandang difabel atau mereka yang berkebutuhan khusus bisa berlibur pada liburan Natal 2019 dan Tahun Baru (Nataru) 2020. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan serta mitra kerjanya memberikan tiket perjalanan gratis dalam program Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) bagi 67 difabel.

“Ini perdana MRAD adakan mudik dengan memberangkatkan 67 disabilitas dan pendamping, 17 di antaranya menggunakan transportasi udara dan 50 transportasi darat dengan dua kali pemberangkatan. Kita berusaha memfasilitasi teman-teman disabilitas yang belum dapat,” ujar Irma Sofiyanti Ilyas, pendiri MRAD pada acara penyerahan tiket dan ID Card peserta MRAD dan pelayanan cek kesehatan di Jakarta, Jumat (20/12/2019).

Sekretatis Ditjen Perhubungan Darat Cucu Mulyana mengatakan, “Kita bekerja sama dengan MRAD memberangkatkan satu bus untuk difabel berkapasitas sekitar 30 orang. Kemudian bus dengan akses bagi 10 orang yang berkursi roda, tentu juga untuk para pendamping.”

Untuk mudik gratis Nataru tahun ini, kata Cucu, hanya dua kota tujuan, yaitu ke Ambarawa dan ke Solo.

Sementara itu Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono menambahkan, pihaknya terus mendorong penyelenggaraan pelayanan publik yang ramah bagi difabel. “Kami akan terus meningkatkan fasilitas dan pelayanan diiringi dengan menyempurnakan peraturan untuk memudahkan para disabilitas,” ujarnya.

Menurut Isnin, ada enam maskapai yang memberikan tiket gratis bagi difabel itu. Rinciannya adalah Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia masing-masing untuk empat penumpang, AirAsia Indonesia untuk satu penumpang, Batik Air dua penumpang, serta Lion Air enam penumpang dan Wings Air dua penumpang untuk penerbangan lanjutan.

Dua perwakilan maskapai, Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah dan Direktur Safety AirAsia Indonesia, Rd. Achmad Sadikin, hadir dalam acara tersebut.

Pikri mengatakan, “Garuda pasti dukung program pemerintah. Harapan kita, bagaimana teman-teman bisa menikmati pesawat sama mudahnya dengan orang normal. Check in mudah, masukan bagasi dan naik turun pesawat juga ke kamar mandi, mudah. Kami berkomitmen untuk menciptakan itu.”

Senada dengan itu, Sadikin juga mendukung program MRAD. “Kali ini kami memberikan tiket ke Bali pergi-pulang kepada Hendri Setiyawan,” ucapnya.

Program yang dijalankan ini, kata penanggung jawab MRAD Ritson Manyonyo, merupakan tugas dan tanggung jawab negara kepada rakyatnya. Hal ini dilakukan supaya semua menikmati fasilitas dan sarana yang aksesibel.

“Ini bagian kerja sama MRAD dan pemerintah untuk menyejahterakan disabilitas, yang kalau gak salah, jumlahmya 30 juta jiwa. Mereka punya hak sama untuk menikmati sarana transportasi yang ramah, inklusif, dan sesuai standar prosedur,” ujar penyandang tunanetra yang dijuluki “matanya anak-anak tunanetra” ini.

Salah seorang peserta MRAD penyandang paraplegia, Catur, bercerita bahwa tahun 2016 saat ia menjadi satu-satunya yang mendapat mudik gratis, banyak kesulitan yang dialaminya. Banyak pula temannya yang sulit pulang kampung karena aksesibilitas kurang.

“Ada yang sudah 20 tahun gak bisa pulang. Maka saya berharap, semua direktorat di Kementerian Perhubungan terus meningkatkan fasilitas untuk aksesibilitas penyandang disabilitas,” ujar satu dari delapan difabel yang bekerja di Kementerian Perhubungan ini.