Mereka Sederet Anak Ajaib Penggempar Dunia

Read Time:3 Minute

Child Prodigy” atau anak ajaib merupakan istilah bagi anak yang memiliki kejeniusan atau keistimewaan yang setara atau bahkan melampaui orang dewasa. Di usia yang sangat muda, bahkan balita, anak prodigy mampu menyetarai kecerdasan ilmuwan-ilmuwan top di dunia. Siapa saja mereka? Berikut ini sosok-sosok mereka yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.

Saul Aaron Kripke

Saul Aaron Kripke. Sumber gambar: Kaskus.

Di dunia, mungkin hanya ada ratusan anak prodigy. Beberapa di antaranya mereka, yang namanya melejit seperti Saul Aaron Kripke (Amerika Serikat). Seorang anak berdarah Yahudi kelahiran 13 November 1940.

Di usia empat tahun Aaron sudah menguasai Aljabar. Lulus sekolah dasar, dia telah menguasai Geometri, Filsafat, dan Kalkulus. Sewaktu masih di bangku masih SMA, dia pernah mengajar ribuan mahasiswa Universitas Harvard.

Elon Musk

Elon Musk. Sumber gambar: digitaldojos.com

Elon Musk, lahir dan besar di Afrika Selatan. Namun demikian, tidak membuat ia menjadi gagap teknologi. Di usia 9 tahun, pria kelahiran 28 Juni 1971 ini membeli komputer pertamanya, Commodore VIC 20.

Dia belajar pemograman dari buku “How to Program” dengan komputernya hanya dalam waktu 3 hari, yang normalnya selama 6 bulan. Pada usia 12 tahun, Musk berhasil menjual software game pertamanya, ‘Blastar’.

Saat ini, Musk yang masuk dalam daftar tiga orang terkaya di dunia, namanya pun mashur dengan dua karyanya yang mendisrupsi industri teknologi transportasi masa depan.

Yapp, dialah sang pendiri dan CEO Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX), perusahaan transportasi luar angkasa yang berbasis di AS, serta salah satu pendiri dan CEO perusahaan mobil listrik futuristik, Tesla.

Terrence Tao

Terrence Tao. Sumber gambar: mainhistory.com

Terrence Tao (Australia), di usia 2 tahun dia telah mampu menghitung aritmatika dasar. Pada usia sembilan tahun, pria kelahiran 17 Juli 1975 ini sudah mengikuti kuliah matematika.

Dia menjadi peserta termuda dan peraih medali emas dalam Olimpiade Matematika Internasional, saat usianya masih 13 tahun. Tao meraih gelar doktor (PhD) dari Princeton di usia 20 tahun, dan gelar profesor di UCLA pada usia 24 tahun. Pemilik IQ 230 ini juga telah mempublikasikan lebih dari 230 makalah riset.

Michael Kaerny Kean

Michael Kaerny Kean. Sumber gambar: Kaskus.

Michael Kaerny Kean (AS) yang lahir pada 18 Januari 1984, di Honolulu, Hawaii, sudah menjadi mahasiswa saat berusia 10 tahun. Namanya meroket saat dia menjadi satu-satunya pemenang kuis Who Wants to Be a Millionaire, dengan total uang yang diperoleh Rp9miliar.

Gregory Smith

Gregory Smith. Sumber gambar: Factinate

Gregory Smith (AS), bocah kelahiran tahun 1989. Seperti Michael Kaerny Kean, dia juga terdaftar menjadi mahasiswa saat umurnya 10 tahun. Dia juga peraih Penghargaan Nobel Perdamaian termuda, saat itu usianya 12 tahun.

Akrit Jaswal

Akrit Jaswal, Sumber gambar: Báo Mới.

Akrit Jaswal (India), bocah kelahiran 23 April 1993 dengan IQ 146. Dunia seakan terguncang saat mengetahui Akrit sukses melakukan praktik operasi bedah pertamanya di usia 7 tahun terhadap seorang gadis yang menderita luka bakar.

Christopher Hirata

Christopher Hirata. Sumber gambar: Princeton Alumni Weekly.

Christopher Hirata (AS), di usia 13 tahun peraih medali emas termuda dalam Olimpiade Fisika Internasional. Pada usia 14 tahun, pemilik IQ 225 ini menjadi mahasiawa di Caltech (California Technology), AS.

Di usia 16 tahun, Hirata sudah bergabung dengan NASA dalam proyek kolonisasi di Mars. Pada usia 22 tahun, dia berhasil meraih gelar doktor (PhD) dari Princeton.

Alice Amos

Alice Amos. Sumber gambar: Daily Mail.

Alice Amos, di usianya yang baru 3 tahun dia sudah tercatat sebagai bocah kecil dengan IQ 163. Tak sedikit yang menyetarakan kecerdasannya dengan Albert Einstein dan Stephen Hawking.

Pada 2013, balita ini menjadi anggota termuda di MENSA, organisasi berisikan orang-orang dengan IQ tertinggi di dunia. Dia menguasai bahasa Inggris dan Rusia, serta mahir di bidang matematika.

Lyonda Shafira Huwaidi

Lyonda Shafira Huwaidi. Sumber gambar: Ery.

Di Indonesia ada juga sosok yang terbilang prodigy, salah satunya Lyonda Shafira Huwaidi. Di usianya yang ke-15, gadis ini telah terdaftar menjadi mahasiswi di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Jakarta.

Menginjak semester 2, dia berhasil memimpin timnya menjadi finalis dalam Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) tingkat nasional. Timnya mengungguli kontestan lainnya yang pada umumnya mahasiswa semester 4 dan 6.

Pada September 2019, gadis kelahiran tahun 2000 ini menjadi lulusan Program Studi Teknik Penerbangan termuda di Indonesia. Gadis belia yang terinspirasi kecerdasan Christopher Hirata dan Elon Musk ini bercita-cita menjadi ahli roket yang dapat membanggakan Indonesia di mata internasinal.