Menyoal Faktor Geometrik Jalan Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas Hasil Investigasi KNKT

Kondisi jalan di Indonesia ternyata memiliki banyak hazard atau risiko yang mengundang bahaya. Hal ini umumnya kurang, bahkan tidak, diketahui oleh pengguna jalan, khususnya pengemudi kendaraan. Kondisi atau geometrik jalan dan ketidaktahuan itulah yang menimbulkan kecelakaan lalu lintas hingga menyebabkan kematian, serta cedera dan cacat fisik.

Sebenarnya, di seluruh dunia pun kecelakaan lalu lintas jalan menjadi penyebab kematian, cedera, dan kecacatan yang dominan. Disebutkan dalam siaran pers Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kurang lebih 1,3 juta orang meninggal dunia dan 20-50 juta orang terluka akibat kecelakaan jalan setiap tahun.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan, berdasarkan hasil investigasi yang kerapkali dilakukan menunjukkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas didominasi oleh faktor geometrik jalan. “Perlu diingat bahwa sebagian besar jalan di Indonesia bukanlah jalan yang sengaja dibangun, melainkan jalan peninggalan zaman Belanda, jalan tikus, jalan setapak, jalan lingkungan, yang kemudian dilebarkan dan diperkeras sehingga tampak menjadi bagus,” ujarnya.

Menurut Soerjanto, jalan-jalan itu dikembangkan dengan kondisi lalu lintas yang belum padat pada saat itu. Jalan dibangun tanpa kaidah keselamatan infrastruktur yang baik, yang seharusnya melalui audit dan inspeksi keselamatan jalan, analisis dampak keselamatan jalan, manajemen daerah rawan kecelakaan, serta laik fungsi jalan. Maka jalan-jalan tersebut sangat mungkin menyimpan banyak hazard yang bisa kapan saja menyebabkan orang celaka.

“Masalah geometrik ini, tentu kita harus bijak.Tak mungkin perbaikannya dilaksanakan di semua ruas jalan. Kalau ingin sesuai aturan, sangat besar biaya yang harus dikeluarkan,” ungkap Soerjanto dalam rilis media “Kecelakaan Lalu Lintas Jalan yang Disebabkan oleh Faktor Geometrik Jalan” di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Dibahas dalam acara tersebut studi kasus investigasi tabrakan beruntun di ruas jalan Solo-Ngawi, di tikungan Harmoko Musi Banyuasin, dan di tebing Breksi Sleman-Yogya. Ruas-ruas jalan ini merupakan tiga titik daerah rawan kecelakaan.

Plt Kepala Sub Komite Moda Investigasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT, Ahmad Wildan menjelaskan, kasus pertama di ruas jalan Solo-Ngawi terjadi di Km 8-9 dari Solo ke Ngawi. Awalnya ada konvoi sepeda motor membawa muatan barang, bus Safari Dharma Raya, bus Mira, bus Sumber Selamat, dan mobil Innova. Ketika bus Mira akan mendahului sepeda motor, dari arah berlawanan muncul bus Eka, sehingga terjadi tabrakan beruntun. “Tabrakan melibatkan tiga bus dan satu mobil penumpang,” ucapnya.

Ahmad mengatakan, ruas jalan itu memiliki elemen penampang jalan melintang. Kondisi jalan Arteri Primer Kelas II dengan lebar 7 meter 2/2 UD dan bahu jalan 1,5 meter ini lurus. “Hazard-nya yaitu adanya desain kecepatan tinggi, mixed traffic (gap kecepatan), serta tabrak depan dan tabrak belakang,” ujarnya.

Sementara kasus kedua, yakni elemen alinyemen horizontal di tikungan Harmoko Musi Banyuasin, ternyata hazard-nya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. “Dinamakan tikungan Harmoko karena waktu pak Harmoko menjabat Menteri Penerangan, kendaraan rombonganya terguling di tikungan itu. Kecelakaan tunggal kendaraan terguling atau menabrak tebing kerap terjadi secara berulang,” tuturnya.

Ruas jalan Arteri Primer Kelas II itu memiliki lebar 6 meter 2/2 UD dengan bahu jalan 1 meter. Kondisi jalannya berkelok. Kasus kecelakaan yang diinvestigasi KNKT dialami oleh bus Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) yang menewaskan empat korban jiwa.

Identifikasi hazard pada kasus kecelakaan tersebut adalah tikungan patah setelah jalan lurus. Adanya tikungan ganda searah dan minimnya informasi delineasi jalan.

Kasus ketiga adalah elemen alinyemen vertikal pada tebing Breksi Sleman-Yogya. Terdapat perbedaan tinggi 191 meter dengan gradien maksimal 35% sejauh 1,81 km. Kendaraan Isuzu NHR 55 memiliki torsi dengan gradeability 25%. Saat dipaksa naik, mesin mengalami overheat dan v-belt putus.

“Pengemudi dan pemilik kendaraan tidak memahami sistem rem. Pengemudi tetap melanjutkan perjalanan turun, sehingga terjadi rem blong. Kecelakaan ini menyebabkan enam orang meninggal dunia, ” kata Ahmad.

Hazard yang ditemukan pada kasus itu adalah terdapat turunan panjang dan ekstrem, jalan beton dan drainase beton, serta minimnya informasi delineasi jalan. Ahmad menambahkan, “Perlu diperhatikan juga, drainase beton yang terbuka itu bisa menyebabkan fatal.”

KNKT memberikan rekomendasi agar kecelakaan serupa tidak terulang. Untuk kasus pertama, rekomendasinya berupa survei inspeksi keselamatan jalan, segregasi lalu lintas dengan kecepatan yang berbeda, dan manajemen traffic calming (aksesibilitas vs keselamatan).

Untuk kasus kedua, KNKT meminta agar informasi delineasi jalan diperbaiki, juga ada pra-desain dan perbaikan geometrik tikungan. Sementara untuk kasus ketiga, rekomendasi yang harus ditindaklanjuti berupa perbaikan informasi delineasi jalan, penyediaan forgiving road, dan pemberian edukasi terkait delineasi jalan.

Soerjanto pun mengungkapkan, “Solusi perbaikan kondisi jalan itu harus yang efektif untuk negara kita. Contohnya, rambu jalan harus menarik. Seperti rambu untuk lajur penyelamat, harus bisa dilihat dengan jelas.”

Foto: KNKT