Menteri BUMN Beri Lampu Hijau, AP II Akan Kuasai 25% Saham Bandara Kertajati

Read Time:1 Minute

Direktur Utama Angkasa Pura II (AP II), Muhammad Awaluddin menyebutkan bahwa Menteri BUMN sudah memberi lampu hijau untuk memulai transaksi pembelian saham PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB), pengelola Bandara Kertajati di Majalengka.

“Kami sudah dapat approval dari Ibu Menteri BUMN, dan sudah menyetujui untuk beberapa alternatif skema,” ujar Awaluddin seusai bertemu dengan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Iwa Karniwa di Gedung Sate, Bandung, Kamis (18/4/2019), seperti dikutip Tempo.co.

Awaluddin menegaskan, Kementerian BUMN setuju mengambil 25 persen saham PT BIJB dengan nilai setara Rp 600 miliar. Skema pembelian saham itu sedang dalam pembahasan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Ruang itu sudah dapat persetujuan dari pemegang saham kami yakni Kementerian BUMN, yang porsi 25 persen itu akan kita optimalkan. Hanya tata caranya banyak. Kita masih mencoba alternatif ini itu sampai nanti kemudian kita putuskan,” terang dia.

Menurutnya, ada banyak cara skema pembelian yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah chip-in langsung dalam bentuk direct equity placement. Atau mungkin dengan menerbitkan instrumen keuangan yang kemudian difasilitasi bersama untuk pembiayaan.

“Bisa juga pengambilalihan biaya operasional yang ditanggung BIJB dipindahkan tanggung jawabnya ke kita, sehingga tidak perlu lagi dibebani biaya operasi bulanan kemudian bisa diakumulasikan jadi penyertaan,” tambahnya.

PT BIJB sendiri merupakan BUMD dengan saham mayoritas di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT Jasa Sarana.

“Kita ditunjuk pemerintah sebagai operator Bandara Kertajati. Sudah direalisasikan per 22 Januari 2018. Sekarang kita bahas lebih pada bagaimana menindaklanjuti peran Angkasa Pura II tidak hanya sebagai operator bandara. Pemerintah Jawa Barat juga minta kita sebagai investor,” ungkap Awaluddin.

Awaluddin juga menyebutkan bahwa pemerintah Jawa Barat pun sudah memberi lampu hijau membahas semua opsi yang ada. “Tapi syaratnya tiga. Pak Sekda setuju, yaitu harus cepat, harus mudah tidak ribet, dan biayanya rendah karena berbagai transaksi keuangan ada biayanya. Itu yang kita cari sangat optimal,” paparnya.

Ditemui pada saat yang sama, Iwa membenarkan rencana jual-beli saham tersebut. Teknis pembelian saham itu tengah dibahas bersama. “Dengan skenario yang tidak memberatkan secara cash-flow, ini sedang dibahas teknis,” kata dia.

Iwa mengatakan, pembahasan pembelian saham itu sudah hampir rampung. “Kita sudah semakin mengerucut untuk bagaimana terkait dengan sharing saham, termasuk juga kerja sama operasi,” tutup dia.