Wed. Apr 8th, 2020

Menhub Bilang Ada 2 Hal Positif Garuda dan Sriwijaya Air Cerai

Armada pesawat Sriwijaya Air, Citilink Indonesia dan Garuda Indonesia di Hanggar 2 GMF AeroAsia. Sumber gambar: Ery.

                                   

Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air secara resmi telah memutuskan untuk menghentikan Kerja Sama Manajemen (KSM) per 8 November 2019. Keputusan tersebut akhirnya membuat kedua maskapai menjalankan manajeman bisnisnya masing-masing.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa dengan putusnya kerja sama itu, terlihat lebih banyak hal positif yang dapat diambil bagi kedua maskapai. Budi bilang, setidaknya terdapat dua hal positif yang bisa diambil dari putusnya kerja sama.

“Kami laporkan terakhir Garuda dan Sriwijaya independen untuk berdiri sendiri. Pemisahan Garuda dan Sriwijaya lebih positif. Salah satunya terjadi persaingan harga yang lebih baik, sehingga timbul harga yang lebih mature,” tutur Budi di Jakarta, seperti dikutip kompas.com, Senin (25/11/2019).

Selain terjadi persaingan harga yang lebih baik, putusnya kerja sama itu membuat pemilahan masalah jauh lebih jelas, tidak tercampur antar manajemen.

“Misalnya kalau Sriwijaya salah, kita bisa minta keterangan Sriwijaya langsung. Kalau Garuda yang salah, kita juga bisa minta keterangan langsung,” terangnya.

Kata Budi, pihaknya telah melakukan pengujian kemampuan dan kelaikan terbang Sriwijaya 1 x 24 jam usai pisah dari Garuda. Pengujian tersebut meliputi pengujian manajemen dan direktur operasi.

“Kami juga memastikan bahwa stakeholder yang support Sriwijaya dilakukan secara profesional, yaitu dari segi maintenance dan ground handling. Dari situ terlihat secara teknis Sriwijaya dapat melaksanakan kegiatan,” papar Budi.

Namun, terkait laporan keuangan, Budi bilang pihaknya belum mendapat laporan audit keuangan Sriwijaya Air selama bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

“Kami belum mendapatkan audit report secara permanen, posisi keuangan Sriwijaya seperti apa. Kami belum dapat,” tandas Budi.