Mengingatkan Lagi untuk Membangun Aerospace Park

Assalamualaikum semua …

Wacana membangun aerospace park atau kawasan aviasi terpadu kembali diingatkan. Hal ini terungkap dalam “TechTalk: Ekosistem Industri Dirgantara Pasca Pandemi” yang diselenggarakan The Habibie Center secara virtual minggu lalu (29/7/2020).

Akhir tahun 2000-an sudah disampaikan oleh para pakar industri dirgantara bahwa Indonesia sudah seharusnya memiliki aerospace park. Dalam kawasan aviasi terpadu ini ada pusat pelatihan, supplier & vendor, manufaktur, dan lainnya yang terkait dengan industri penerbangan. Dengan demikian akan tercipta koordinasi terpadu dan industri dirgantara Indonesia pun bisa memiliki daya saing tinggi.

Pada tahun 2012, 30 anggota Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA) pernah melakukan kajian untuk mendapatkan gambaran pengembangan aerospace park di Indonesia. Di bandara mana saja yang bisa dikembangkan sebagai aerospace park?

Beberapa bandara pun diusulkan untuk dikembangkan dan melengkapinya dengan aerospace park. Bandara-bandara ini adalah Soekarno-Hatta, Jakarta; Hussein Sastranegara, Bandung; Kertajati Majalengka; Juanda, Surabaya; Sultan Hasanuddin, Makassar; Sam Ratulangi, Manado; Sentani, Jayapura; Segun, Sorong; Kualanamu, Medan; Hang Nadim Batam; Raja Fisabilillah, Tanjung Pinang; Samarinda Baru; Tjilik Riwut, Palangkaraya; dan Bandara Internasional Lombok.

Belakangan yang menjadi perbincangan dan dinilai strategis untuk aerospace park adalah di Batam, Bintan, dan Kertajati. Namun rupanya berbagai kendala merintangi dibangunnya kawasan aviasi terpadu itu, sehingga sampai saat ini belum terwujud.

GMF AeroAsia misalnya, yang pernah ingin membangun aerospace park di Bintan, beralih ke Batam. Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, yang pada diskusi ini menjadi pembicara kunci, pernah pula menyatakan akan membangun fasilitas maintenance repair overhaul (MRO) di Batam karena sudah memiliki 100 hektare lahan di sana. Sekarang ini, Batam sudah memiliki fasilitas MRO milik Lion Air Group, Batam Aero Technic (BAT).

Rupanya, Ilthabi Aerospace Group yang dimiliki Ilham Habibie juga memiliki lahan untuk dikembangkan menjadi aerospace park di Kertajati. Namun untuk membangunnya masih memerlukan banyak dukungan dan waktu yang tepat.

Dalam diskusi virtual itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, Novyanto Widadi menyampaikan, pihaknya sedang melakukan survei dan pengkajian untuk menjadikan kawasan Bandara Budiarto, Curug, Banten, sebagai edu-aero park. Kata dia, ada lahan 500 hektare dan berbagai fasilitas pendukung dunia aviasi yang sudah ada di sana.

Pada masa pandemi Covid-19 ini memang sektor transportasi udara dan industri dirgantara umumnya sedang terpuruk. Namun masa ini pasti akan berlalu. Seperti diungkapkan Ilham Habibie, masa depan industri dirgantara di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, tetap sangat cerah.

Salah satunya dalam hal jumlah penumpang pesawat terbang, yang pernah mencapai sepertiga jumlah penduduk Indonesia atau lebih kurang 100 juta orang. “Suatu ketika bisa jadi akan mencapai tiga kali jumlah penduduknya. Mudah-mudahan saat ini akan mulai ada pertumbuhan jika kita menuju sehat,” ucap Ilham.

Dengan terus bertumbuhnya jumlah penumpang, juga kargo udara, kebutuhan akan perawatan pesawat terbang tentu bakal meningkat. Dalam hal inilah, salah satunya, aerospace park menjadi prasarana pendukung yang penting. Maka pada masa inilah, pemikiran untuk membenahi seluruh aspek dalam dunia dirgantara nasional perlu dilakukan.

Pada kesempatan tersebut, hadir narasumber dari Kementerian BUMN, yaitu Asisten Bidang Industri Pertahanan, Liliek Mayasari, juga dari GMF AeroAsia, Desrianto Prayogi, serta President & CEO PT Okta Aero Konsultan, Richard Budihadianto dan Direktur Flybest Flight Academy, Karin Item. Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) Chappy Hakim serta beberapa anggota The Habibie Center juga memberikan pendangan dalam diskusi yang dibuka oleh Wakil Ketua IDST The Habibie Center, Santhi Serad itu.

Presiden Direktur Ilthabi Aerospace Group, Agung Sarwana yang menjadi moderator memberi kata kunci pada akhir diskusi itu. Yakni walaupun dalam masa ketidakpastian ini, peta industri dirgantara pasti berubah. Mengingat geografisnya, industri dirgantara Indonesia pasti cerah.

Foto: Batamnews.co.id