Mengapa Ada Penerbangan Perintis di Negeri Kita

IndoAviation – Tanggal  30 Desember 2022 lalu, Dirjektorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menandatangani kontrak kerjasama angkutan udara perintis tahun 2023 dengan sejumlah operator penerbangan. Pemandatanganan dilakukan di kantor kementerian di Jakarta.

Kontrak yang ditandatangani itu sekaligus menandakan kalau kegiatan angkutan udara perintis tahun 2023 wajib terlaksana pada awal tahun anggaran. Dengan begitu manfaatnya dapat segera terasakan bagi masyarkat di daerah perintis.

Senin 2 Desember 2023, penerbangan perintis pertama berlangsung di wilayah perintis Dabo Singkep. Penerbangan perdananya menerbangi dua rute, Dabo – Batam pp, dan Dabo – Jambi pp.

“Pada saat penandatangan, kami berkomitmen, awal 2023 kegiatan angkutan udara perintis dapat beroperasi, dan alhamdulillah Korwil Dabo Singkep sudah memulainya,” Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Maria Kristi Endah Murni. Bu Dirjen berharap, wilayah lain segera menyusul.

Di negeri kita, penerbangan perintis bukanlah sebuah hal baru. Sudah dimulai sejak awal tahun 50-an.

Ketika itu, pemerintah merasa perlu untuk membuka akses ke kota-kota di pedalaman Pulau Kalimantan. Namun keinginan ini terhambat oleh kondisi geografis Kalimantan yang berhutan lebat dan susah ditembus. Jalan lain ada, yakni lewat sungai. Namun waktu tempuhnya juga lama.

Lantas muncullah ide, membuat “jembatan udara”.

Mengutip tirto.id, Musyawarah Nasional Pembangunan 1957 memerintahkan AURI (sekarang TNI AU) agar membangun Feeder Line (Jembatan Udara antar daerah) di Kalimantan. Jembatan udara yang dimaksud adalah jalur penerbangan dengan pesawat terbang.

Bisa jadi, inilah cikal bakal penerbangan perintis di Indonesia.

Senada, di Papua. Pada awalnya, penerbangan perintis di Papua dilakukan oleh misionaris, juga sekitar tahun 50-an, sebelum Papua gabung ke Indonesia.

Mereka, misionaris, adalah para penyebar agama yang ditugaskan ke Papua. Saat itu mereka sangat kesulitan dalam melayani umatnya. Mereka harus berjalan berhari-hari melewati jalan setapak, menyeberang sungai deras dan menaiki tebing terjal. Agar misi lebih efektif dan efisien, mereka membangun lapangan terbang kecil, dan menerbanginya dengan pesawat kecil.

Pada awalnya mereka mengembangkan penerbangan perintis di Lembah Baliem. Lalu berkembang hingga ke daerah pedalaman lainnya.

Dalam membangun lapangan terbang, para misionaris dibantu masyarakat setempat. Alat kerja mereka hanya  sekop dan linggis.

Hasilnya sebuah lapangan terbang yang sekadar ada, dengan landasan pacu berupa lapangan rumput atau tanah yang diperkeras. Tidak berpagar dan bebas dilewati siapa saja, termasuk oleh hewan ternak.

Tahun 2023, masih ada beberapa daerah di Indonesia yang masih sulit dijangkau oleh moda transportasi. Daerah ini meliputi daerah terpencil, tertinggal, terluar, dan perbatasan atau disingkat daerah 3TP. Agar daerah 3TP dapat terhubung dan berkembang, maka pemerintah menghadirkan penerbangan perintis.

Lapangan terbang perintis saat ini sudah dikelola jauh lebih baik. Pun dengan operasional pesawat terbangnya. Kini pemerintah bekerja sama dengan sejumlah operator penerbangan untuk menerbangi daerah-daerah perintis yang ada.

Kegiatan penerbangan perintis di negeri kita merupakan kerja sama antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, dalam hal ini Direktorat Angkutan Udara, dengan Badan Usaha Angkutan Udara alias operator penerbangan.

Tujuannya adalah  untuk melayani jaringan dan rute penerbangan, serta menghubungkan daerah 3TP tadi atau menghubungkan daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi apaun dengan daerah lainnya.

Penerbangan perintis juga bisa menjadi bukti  nyata kehadiran pemerintah dan komitmen dalam penyediaan transportasi udara, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah, mewujudkan stabilitas pertahanan keamanan negara, dan solusi masalah sosial ekonomi lainnya.

Maria Kristi menjelaskan, angkutan udara perintis merupakan bagian dari fokus pemerintah untuk meningkatkan konektifitas dan mengatasi persoalan logistik di daerah  3TP. Sehingga masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah, dalam memenuhi kebutuhan dan keberlangsungan logistik.

“Pada 2023 penyelenggaraan dan rute angkutan udara perintis dilaksanakan di 21 Korwil dengan jumlah rute angkutan udara perintis 220 rute penumpang dan 41 rute kargo,” jelas Kristi, seraya berharap, pelaksanaan kegiatan angkutan udara perintis tersebut dapat melayani dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.

“Semoga setiap Korwil dan operator penerbangan dapat konsisten dan bertanggung jawab, agar kegiatan angkutan udara perintis dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta dapat menghadirkan penerbangan selamat, aman dan nyaman,” harap Bu Dirjen Perhubungan.