Mencari Solusi Tingkatkan Keselamatan Kapal Tradisional

Read Time:2 Minute

Peran penting kapal-kapal tradisional masih belum tergantikan. Walaupun saat ini sudah beroperasi banyak kapal perintis dari Pemerintah.

“Kapal-kapal tradisional memiliki peran yang signifikan. Kontribusinya masih dominan dan tidak mungkin perannya diisi semua oleh kapal-kapal perintis,” kata Soerjanto Tjahjono, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) ketika membuka media background “Review Keselamatan Pelayaran pada Kapal Tradisional di Indonesia ” di Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Namun Soerjanto mengakui, aspek keselamatan beroperasinya kapal-kapal tradisional itu masih belum sesuai dengan yang diharapkan. “Kita ketahui, akhir-akhir ini kecelakaan kapal selalu ada setiap hari di Indonesia; di kawasan timur dan barat, juga di mana pun, baik kapal niaga maupun kapal penyeberangan, terutama kapal tradisional,” ujarnya.

Dari banyaknya kecelakaan itu, KNKT hanya menginvestigasi beberapa kasus saja. Tahun 2021 misalnya, hanya 19 kasus dan paling banyak kecelakaan itu terjadi pada kapal penangkap ikan atau kapal tradisional.

Menurut Soerjanto, dari sisi pemenuhan keselamatan, kapal-kapal tradisional memang belum bisa memenuhinya. Bagaimana nanti ke depannya? Ini yang menjadi pekerjaan rumah, misalnya tentang kondisi cuaca, yang seringkali menjadi penyebab kecelakaan itu.

“Tentang kondisi cuaca itu, sudah ada peringatan dini, tapi tidak sampai kepada teman-teman di pelayaran. Ini yang membuat kami sedih. Sudah jungkir balik menyediakan prakiraan cuaca, tapi tidak bisa sampai kepada yang membutuhkan,” tutur Soerjanto.

Bagaimana menyebarkan informasi cuaca, terutama cuaca buruk itu karena beberapa kejadian terulang kembali? “Kita memahami  kalau dari BMKG ada semacam keterbatasan dalam menyebarkan informasi fenomena cuaca lokal,” ucapnya.

Soerjanto menyebut agar ke depannya kapal-kapal tradisional memiliki batasan untuk mengarungi cuaca dengan gelombang laut dua-tiga meter. “Namun kapal-kapal tradisional itu kan sebenarnya masih dominan dan signifikan. Begitu cuaca jelek, seperti di Ternate dan Tidore, harga-harga langsung naik karena kapal tak bisa berlayar beberapa hari.”

Disebutkannya bahwa di negara tropis seperti Indonesia, kondisi cuacanya gampang berubah dibandingkan di negara-negara empat musim. “Karena kondisi cuacanya dinamis, sekarang ini tak bisa lagi memberikan prakiraan kalau tak menggunakan teknologi. Maka kami juga minta untuk mengaktifkan stasiun radio pantai, terutama sebagai peringatan jika cuaca buruk,” ungkap Soerjanto.

Selain cuaca, kecelakaan kapal-kapal tradisional juga seringkali dipicu oleh terbakarnya kapal. Salah satu yang disorot KNKT adalah wadah bahan bakar kapal yang masih menggunakan jerigen plastik. Disarankannya untuk mengganti jerigen yang sering bocor dan rawan terbakar itu dengan drum berbahan tahan api.

“Rekomendasi itu sebagai solusi yang tak menyeluruh dan kami ingin solusi yang menyeluruh. Karena itu, kita perlu dan harus menjaga keselamatan masing-masing juga,” kata Soerjanto.

Di samping itu, KNKT juga mengharapkan keberpihakan pemerintah pada kapal-kapal tradisional itu. Kata Soerjanto, “Mereka membutuhkan bantuan kredit lunak. Bukan hanya subsidi BBM, tapi lebih kepada bagaimana mereka bisa membangun kapal sesuai standar serta pemerintah memberi dukungan dan bimbingan untuk keselamatan kapal.”