Masyarakat Ditantang agar Cakap di Ruang Digital

Read Time:1 Minute

Bagaimana cara agar masyarakat mempunyai kecakapan digital? Ini menjadi tantangan karena saat ini hampir semua bidang kehidupan sudah bisa dilakukan dengan cara digital.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Junico BP. Siahaan, SE dalam Webinar Ngobrol Bareng Legislator dengan tema Literasi Digital untuk Kemajuan Bangsa dan Negara, Jumat (8/4/2022).

Mantan presenter TV yang dikenal sebagai Nico Siahaan itu menjelaskan, pengguna internet di Indonesia mencapai 204 juta orang dengan pengguna media sosial mencapai 191 juta. Media sosial yang paling banyak diakses adalah Whatsapp dengan persentase mencapai 88,7%. Disusul Instagram 84,8%, Facebook 81,3%, dan Tiktok 63,1%.

“Dalam sehari, masyarakat Indonesia memanfaatkan 8 jam 36 menit untuk membuka internet,” ungkap Nico.

Cakap digital, kata dia, mencakup tiga kecakapan. Pertama, cakap digital skill, yakni mampu membandingkan beragam informasi untuk mendapatkan informasi yang benar. Mampu pula berinteraksi dan menggunakan beragam perangkat digital.

Kedua, cakap digital etnich, yakni tidak berkata kasar di media sosial, tidak mengajak dan menghasut orang lain untuk menyebarkan kebencian, serta tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain. Mampu pula menjaga data pribadi dalam berinteraksi di ranah digital, serta terbiasa menggunakan password yang aman dan menggunakan antivirus.

Ketiga, cakap digital culture, yakni mencantumkan sumber bila ingin mengunggah postingan orang lain. Memiliki empati dalam berinteraksi di dunia maya dan menghargai adanya perbedaan sebagai sebuah bangsa.

Di sisi lain, diungkap dosen Fikom Universitas Padjajaran, DR Dian Wardiana Sjuchro yang mengatakan, secara umum ruang digital terlalu cepat menyapa masyarakat Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Kecepakatan tersebut melahirkan kejutan budaya pada sebagian masyarakat kita.

“Budaya digital; media sosial termasuk di dalamnya, hadir ketika budaya baca dan literasi media masih belum terbentuk dengan baik. Bangsa kita gagal memahami bahwa ruang digital adalah budaya yang memerlukan etika, moral, dan sikap kritis di dalamnya,” kata Dian.

Praktisi Komunikasi dan Bisnis, Teguh Yuwono menyampaikan pula bahwa ada tiga aspek yang perlu diperhatikan ketika seseorang membaca sesuatu di internet. “Apakah yang dibaca itu benar atau salah. Apakah yang dibaca itu bermanfaar atau tidak bermanfaat, dan apakah yang dibaca itu baik atau buruk?” katanya.

Dijelaskannya, sudah saatnya informasi-informasi yang ditayangkan harus berupa informasi yang kondusif. “Pengguna internet memang tidak semua sama, tapi mari kita menjadi pengguna internet yang cerdas dan cakap dalam menggunakan ruang digital,” katanya.

Foto: Kominfo