Masih Teka-teki Solusi Mempertahankan Garuda sebagai Flag Carrier

Read Time:2 Minute


Garuda Indonesia tengah menghadapi masalah serius. Apakah Garuda akan tetap menjadi flag carrier Indonesia? Apakah Indonesia harus memiliki flag carrier?

“Akan lebih membanggakan jika Garuda tetap ada. Karena sepatutnya negara Indonesia
memiliki maskapai flag carrier,” ujar Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dan pemilik Susi Air dalam pertemuan secara daring yang diselenggarakan oleh CSE Aviation dan HM Aviation, Rabu (24/11/2021).

Susi yakin Garuda bisa bertahan dengan catatan memiliki manajemen perusahaan yang
baik. “Restrukturisasi internal Garuda tidak cukup. Pemerintah harus turun tangan. Kita harus duduk bersama menanganinya. Satu lagi, maskapai penerbangan pembawa bendera tidak boleh dicampur dalam urusan politik.”

Senada dengan Susi, Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, mengatakan, Indonesia harus memiliki flag carrier dan Garuda adalah simbol perjuangan bangsa. “Masa depan umat manusia adalah air and space. Perhubungan udara itu sangat penting, yang mengalirkan darah dan oksigen bagi bangsa,” tegasnya.

Menurut Chappy, Garuda mengalami kesulitan keuangan bukan hanya kali ini saja. “Pertanyaannya, mengapa Garuda bisa berkali-kali mengalami kesulitan keuangan?”

Pendapat Chappy, ketika Garuda kesulitan keuangan, yang dilakukan hanya pergantian manajemen perusahaan dan penyuntikan dana. Setelah itu, Garuda mendapatkan “the best ini-itu”, dan sebagainya. Padahal yang perlu dilakukan ialah audit demi menyelamatkan Garuda
dan tidak terulang kembali.

Mirisnya lagi, kata Chappy, ahli manajemen penerbangan di Indonesia masih sangat sedikit. Sementara itu, perkembangan teknologi dunia penerbangan sangat cepat dibandingkan teknologi moda transportasi
lainnya. Maka penting untuk mendidik ahli-ahli manajemen penerbangan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Reza menyampaikan, “Kita sebelumnya sudah minta direksi Garuda untuk negosiasi dengan lessor, kreditur, dan pihak internal, termasuk Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (Sekarga). Negosiasi ini untuk mencari jalan efisiensi agar kebutuhan tiap bulan dapat diatasi.”

Kata Faisol, “Saya sedikit kecewa dengan jalan keluar yang diberikan. Bahkan proses negosiasi dengan APG dan Sekarga tidak cukup memberikan hasil menggembirakan karena belanja pegawai masih tinggi.”

Garuda pun diberi dana talangan Rp7triliun dari pemerintah yang bersifat pinjaman. Jika dalam tiga tahun tidak dapat diganti, dana talangan itu akan dikonversi menjadi nilai saham milik Pemerintah Indonesia.

Pakar penerbangan Hasan Soedjono, yang pernah menjadi Komisaris PT Garuda
Indonesia, Direktur Utama Sempati Air, dan saat ini Komisaris Citilink, urun pendapat. Kata dia, maskapai penerbangan itu bisnisnya kecil sekali. Jika untungnya besar pun, akan mendapatkan untung yang kecil.

“Dapat dikatakan, maskapai penerbangan itu high risk investment. Di dunia hanya 10 airline yang profitable,” ujarnya.

Hasan menyampaikan bahwa Amerika Serikat sejak  maskapai flag carrier-nya, PanAm bangkrut, tidak mengakui adanya maskapai flag carrier di negaranya. Padahal di AS-lah sejarah dimulainya penerbangan. Wright bersaudara mengudara pada 17 Desember 1903 di wilayah berbukit pasir Kitty Hawk, North Carolina, AS.

Foto: Indoaviation