Lebih Dari 85% Pesawat Penumpang di Indonesia Dilengkapi HEPA

Lebih dari 85 persen pesawat penumpang di Indonesia telah dilengkapi sistem sirkulasi udara HEPA (High Efficiency Particulate Air). Dijelaskan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto bahwa sistem filtrasi dan teknologi sirkulasi udara tersebut di armada pesawat dapat meminimalisir penularan Covid-19.

“Pada pesawat udara, sistem filtrasi dan sirkulasi udara di kabin dirancang untuk meminimalisir penyebaran bakteri maupun virus hingga ukuran yang sangat kecil,” ujar Novie dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2020).

Novie menekankan, dilengkapinya armada pesawat dengan sistem HEPA serta adanya pembatasan interaksi dan pembatas antar baris, hal ini dipandang dapat mengurangi resiko penularan Covid-19 saat berada di dalam pesawat.

Dia menguraikan, pada pesawat pabrikan Airbus, proses sirkulasi udara di dalam kabin diperbaharui setiap 2-3 menit menggunakan HEPA. Sedangkan di pesawat Boeing, sirkulasi udara menggunakan HEPA menghasilkan 50 persen udara hasil sirkulasi dan 50 persen udara segar luar yang difiltrasi dalam kabin.

Sementara pada pesawat jenis ATR, meskipun tidak menggunakan HEPA, sistem udara pada pesawat berjenis ATR tetap terjamin dengan adanya mekanisme dua buah Environment Control System (ECS) packs operative. Dengan demikian, udara di kabin pesawat diperbaharui setiap 5-7 menit.

Melalui Surat Edaran (SE) No. 13/2020 yang diterbitkan Dirjen Perhubungan Udara, pemerintah berupaya menerapkan keamanan optimal dengan disiplin protokol pada angkutan udara secara ketat. Sehingga, penumpang yang berada di dalam pesawat udara tetap aman dalam melakukan penerbangan.

“Kami juga telah membuat ketentuan atas ruang isolasi atau karantina di dalam pesawat. Hal ini dilakukan untuk memberikan pelayanan keamanan kepada penumpang dengan gejala Covid-19 ketika on-board, yaitu dengan menyediakan 3 baris kursi kosong di belakang pesawat dengan mekanisme khusus,” tutup Novie.