Kurangi Sampah Plastik, Indonesia Butuh Strategi Komunikasi Lingkungan

IndoAviation – Peneliti dari Universitas Mercu Buana Rizki Briandana (Kiko), M.Comm, Ph.D, dan Dr. Mohamad Saifudin Mohamad Saleh dari Universiti Sains Malaysia berkolaborasi dalam suatu penelitian tentang kepedulian limbah sampah plastik dan perubahan iklim.

Hasil penelitian berjudul Implementing Environmental Communication Strategy Towards Climate Change Through Social Media in Indonesia itu terbit dalam Online Journal of Communication and Media Technologies (2022).

“Strategi komunikasi dikembangkan untuk menyampaikan pesan lingkungan terhadap kepedulian limbah dan perubahan iklim,” tutur Kiko, yang juga Wakil Rektor Universitas Mercu Buana di Jakarta, Selasa (17/1/2023).

Kiko menambahkan, “Secara khusus, strategi komunikasi ditujukan untuk mengubah sikap dan perilaku individu untuk dapat secara aktif mewujudkan lingkungan yang higienis, nyaman, dan bebas sampah.”

Dalam KTT G20 di Bali pada November 2022, pemerintah Indonesia berkomitmen mengejar target pengurangan 70% sampah plastik di laut pada tahun 2025. Sampah plastik telah menjadi ancaman bagi kelestarian lingkungan hidup dan juga kehidupan manusia dalam satu dekade terakhir.

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) merilis artikel berjudul White Paper on Plastics Circular Economy and Global Trade. Dalam artikel ini disampaikan bahwa 400 juta ton plastik dihasilkan dunia setiap tahun untuk berbagai keperluan. Ini termasuk untuk bahan pembungkus karena sifatnya ringan dan fungsional.

Masalah sampah plastik tersebut menjadi perhatian peneliti dari Universitas Mercu Buana dan Universiti Sains Malaysia itu. Kata Kiko, seruan untuk pencegahan perubahan iklim ekstrem dengan tidak menggunakan kantong plastik sudah banyak dilakukan, tapi hasilnya belum optimal.

“Perlu strategi komunikasi lingkungan yang efektif dalam melakukan kampanye pengurangan sampah plastik,” tegasnya.

Penelitian tersebut dilakukan pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Bali yang memiliki program kampanye melalui media sosial. LSM ini adalah satu-satunya organisasi yang berhasil mengadvokasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

Dalam penelitiannya, Kiko dan kolega menemukan beberapa temuan dalam program kampanye tersebut. Antara lain, inkonsistensi, inovasi kampanye yang stagnan, dan peran pemerintah yang tidak optimal.

“Beberapa elemen memerlukan penyesuaian ulang serta dukungan dari pelaku industri dan badan pemerintah untuk optimalisasi program,” ungkap Kiko.

Direkomendasikannya agar media sosial sebagai medium penyampaian pesan lingkungan publik dioptimalikan dalam konten alternatif untuk menyampaikan ide dan konsep lingkungan secara akurat kepada publik.

“Komunikasi lingkungan tidak hanya mengenai masalah tata kelola lingkungan, juga berbagai aspek yang melibatkan perspektif publik,” ucap Kiko.