KNKT Ajak Implementasikan Rekomendasi Demi Keselamatan Transportasi

Read Time:2 Minute

Rekomendasi hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih banyak yang belum diimplementasikan pihak-pihak penerimanya. Padahal dengan melakukan rekomendasi itu, jaminan keselamatan bertransportasi bisa meningkat.

“Ada relevansinya kalau rekomendasi dari KNKT itu ditindaklanjut dengan tingkat kecelakaan yang terjadi,” ujar Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT dalam rilis media “Kinerja Investigasi Kecelakaan Transportasi Tahun 2020” di Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Soerjanto mencontohkan bahwa selama tahun 2020, kecelakaan yang terjadi di moda kereta api (KA) tak signifikan atau nyaris tidak ada karena rekomendasi dari KNKT dilaksanakan.

Ada kecelakaan KA, kata Soerjanto, yang terjadi karena anjlok dan di lintasan sebidang. “Lintasan sebidang ini memang persoalannya memiki kompleksitas tinggi,” ucapnya.

Tahun 2020, KNKT menginvestigasi hanya dua kasus kecelakaan KA karena anjlok. Sementara yang paling banyak diinvestigasi adalah kecelakaan moda penerbangan, yaitu 24 kasus. Untuk lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ), KNKT menginvestigasi 12 kecelakaan dan moda pelayaran 11 kecelakaan.

Di moda penerbangan, rekomendasi juga banyak yang masih belum dilaksanakan. Menurut Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Capt Nurcahyo Utomo, rekomendasi tahun 2019 baru dilaksanakan 18%, sisanya 92% belum. Tahun 2020, ada 20 rekomendasi, yang kesemuanya belum dilaksanakan.

Soerjanto mengatakan, untuk mengimplementasikan rekomendasi KNKT memang membutuhkan waktu. “Kalau misalnya mereka minta waktu tiga tahun, nanti kami pertanyakan dalam tiga tahun itu, apa sudah dilaksanakan atau belum.”

Di moda pelayaran juga masih banyak rekomendasi yang belum diimplementasikan. Seperti untuk speedboat yang mengangkut di atas 12 penumpang sebaiknya menggunakan bahan bakar diesel bukan lagi bensin, yang rawan meledak dan terbakar.

Pada kecelakaan LLAJ, Soerjanto fokus berbicara kejadian di tol Cipali, terutama kecelakaan tabrak belakang. “Kalau yang ditabrak truk, sementara di depannya kendaraan kecil, bisa masuk ke kolongnya dan ini fatal,” katanya.

Maka KNKT sudah merekomendasikan agar truk dipasang penutup bagian depan dan belakang kendaraannya dan ada stiker. “Kalau ada truk mogok juga harus segera dipindahkan dari bahu jalan karena ini menjadi hazard kecelakaan,” ucap Soerjanto.

KNKT juga memikirkan solusi agar kecelakaan yang melibatkan sepeda motor berkurang. Salah satu rekomendasinya, motor matik tidak diperbolehkan dikendarai di jalan raya, apalagi untuk ke luar kota.

Menurut Soerjanto, jumlah kecelakaan tahun 2020 memang berkurang dibandingkan tahun 2019. Namun karena jumlah operasional tranportasi juga berkurang, rate of accident atau poin rating-nya tetap tinggi.

Contoh di penerbangan, kata Nurcahyo, tahun 2019 ada 30 kecelakaan dari 956.000 keberangkatan, jadi poinnya 31,38. Sementara tahun 2020 ada 24 kecelakaan dari 350.000 keberangkatan, jadi poinnya 68,57.

“Kejadian kecelakaan penerbangan hampir sama dengan tahun-tahun lalu, yang didominasi runway excursion,” kata Soerjanto.

KNKT pun sudah memberikan arahan kepada yang terlibat kecelakaan untuk segera melaksanakan perbaikan-perbaikan. “Kami selalu diskusi dengan maskapai, juga regulator, untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang sama, walaupun proses investigasi belum selesai,” ujarnya.

Nurcahyo menambahkan, “Kecelakaan paling banyak terjadi di Papua; 12 kasus. Biasanya disusul oleh kecelakaan di Jawa, tapi kini hanya satu kasus. Malah di Kalimantan dan Sulawesi ada tiga kasus padahal biasanya minim.”

Disampaikannya pula, pada masa pandemi Covid-19 ini, kalau di daerah lain terjadi penurunan jumlah penumpang, di Papua tidak berkurang; penumpang pesawat masih cukup banyak.

“Dengan besarnya rate of accident, kami khawatir Indonesia yang paling banyak menyumbangnya dibandingkan negara lain di dunia,” ungkap Soerjanto.

Foto: KNKT