Kapal-kapal Pelni Siap Jadi Fasilitas Isolasi Mandiri Terapung bagi Penderita Covid-19

Dari inisiatif Walikota Makassar Danny Pomanto, kapal penumpang milik PT Pelni Persero) jadi fasilitas isolasi mandiri terapung (isoter) bagi penderita covid-19 gejala ringan. Saat ini, satu KMP Umsini sudah digunakan sebagai fasilitas isoter di Makassar. Sementara itu, KMP Tidar, KMP Lawit, KMP Bukit Raya, dan KMP Sirimau, segera difungsikan di Belawan, Bitung, Sorong, Jayapura, dan Lampung. Bakal menyusul pula di Bangka Belitung dan Manggarai Utara.

“Kapal Pelni yang disubsidi ada yang port stay dan inisiasi pak Walikota Makassar untuk  dipakai isolasi terpusat menjadi momen bagus membantu banyak pihak,” kata Agus H Purnomo, Dirjen Perhubungan Laut  dalam Media Relation Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan secara virtual, Kamis (19/8/2021).

Menurut Agus, pemerintah menyediakan fasilitas tersebut. “Menteri Perhubungan juga sudah lapor kepada Presiden dan program ini didukung sepenuhnya dengan memanfaatkan kapal yang port stay. Nanti kalau di daerah yang tak besar kebutuhannya, bisa disediakan kapal isolasi terapung ini,” tuturnya.

Rupanya setelah Makassar, beberapa pemerintah daerah juga tertarik menjadikan kapal sebagai fasilitas isoter. Cerita yang disampaikan Danny memang menginspirasi. Kehadiran fasilitas isoter, kata dia, memberikan dampak positif.

“Sebelumnya bingung, kalau ada yang terpapar covid tapi tanpa gejala atau gejala ringan, mau dirawat di mana karena rumah sakit penuh semua? Sekarang para Lurah saya suruh cari orang yang terkena covid, kita jemput dan bawa ke kapal,” tutur Danny.

Memang dikatakan pula oleh Agus bahwa Pemda harus proaktif. “Kita dukung penuh supaya manfaatnya bisa dirasakan. Kami dukung supaya program isolasi terapung berjalan baik,” ucapnya.

Menurut Danny, dampak positif lainnya adalah waktu pemulihan pasien lebih cepat dari yang diperkirakan. “Sebelumnya kami perkirakan pasien akan pulih pada hari ke-10, tapi dengan adanya isoter justru lebih cepat pulih. Pasien bahkan ada yang sudah pulih dan pulang setelah lima hari isoter di kapal Pelni. Mungkin karena suasana di kapal yang sangat kondusif.”

Dalam hal itu, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Capt Mugen Suprihatin Sartoto menjelaskan, secara teori, udara pantai di laut klorinnya tinggi. “Itu menjadi stimulus untuk memperkuat imunitas dan secara fakta dibuktikan. Pernah dilakukan tes pada lima hari pertama naik ke kapal kepada 50 pasien dan hasilnya 40 pasien negatif. Ini ada korelasi positif dengan hasil tes tersebut.”

Mugen juga memaparkan, biaya operasional kapal isoter di Makassar dianggarkan dari APBD dan memang sudah siap mengelolanya. Namun ada tempat lain yang anggaran terbatas sehingga tidak siap. “Ketika di Makassar dilakukan (beroperasinya fasilitas isoter), setelah rapat akhirnya dibiayai pusat dari Kementerian Kesehatan dan BNPB.”

Untuk mengalihfungsikan kapal-kapal itu, Kementerian Perhubungan memang sudah memiliki kontrak dengan Pelni melalui kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO). “Untuk kapal port stay, mengangkut atau tidak, biaya sudah seperti dikontrak. Gaji awak kapal dan sebagainya sudah tercakup dalam anggaran PSO,” kata Mugen.

Pelni sebagai operator tentu mempersiapkan kapalnya.
Direktur Utama Pelni, Insan Purwarisya L Tobing mengatakan, selama pandemi memang jumlah penumpang kapal turun drastis, hanya menyisakan 20-30 persen. “Ini tidak efisien dari kontrak yang ada,” ucapnya.

Data mencatat, ada 10 kapal yang port stay. “Setelah ada permintaan dari Makassar, kami usulkan beberapa kapal di Makassar untuk dijadikan fasilitas isoter. Umsini waktu itu berlayar dari Jakarta ke Makassar dan stay di Makassar. Kemudian Umsini ini yang paling dulu digunakan (sebagai fasilitas isoter),” tutur Insan.

Dalam perkembanganya, pemda meminta kapal untuk dijadikan fasilitas isoter melalui Ditjen Perhubungan Laut. Pelni pun menyiapkan kapal-kapal yang berkapasitas 1.000 penumpang. Sesuai dengan surat edaran Ditjen Perhubungan Laut, maksimal penggunanya 50 persen dari kapasitas kapal.

“Itu kan kapal penumpang dan bisa digunakan untuk yang sifatnya seperti sekarang. Saat gempa di Padang, kita kirim satu kapal ini, sehingga tidak terlalu banyak penyesuaian. Yang di Makassar, kapal bisa disiapkan dua minggu untuk disulap menjadi fasilitas untuk pasien,” ujar Insan.

Insan pun menegaskan, kapal-kapal yang akan digunakan sebagai fasilitas isoter sudah siap secara fisik, kecuali KMP Sirimau yang masih ada perbaikan, tapi segera bisa siap.

Fisik kapal memang sudah siap. Namun kata Mugen, yang memiliki problem dengan fasilitas isoter diharapkan menyiapkan tenaga kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk mengelolanya.

“Kami berterima kasih, terutama kepada Walikota Makassar sebagai penggagas utamanya, juga Pelni, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan, dan BNPB, sehingga program ini berjalan dengan baik. Ke depan bisa ke daerah lain yang sangat memerlukan,” ujar Dirjen Agus.