Jika Tak Segera Dapat Bailout, Maskapai AS Ancam PHK Puluhan Ribu Pekerja

Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) didesak sejumlah maskapai penerbangan lokal untuk bergerak cepat dalam menyalurkan hibah dan pinjaman pemerintah hingga 58 miliar dolar AS. Pemerintah AS juga didesak maskapai untuk segera merekomendasikan formula penyaluran.

Permintaan tersebut disampaikan sejumlah perusahaan penerbangan melalui sepucuk surat pada Sabtu (28/3) lalu. Dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2020), mereka menuliskan bahwa saat ini perusahaan memiliki kebutuhan yang sangat mendesak.

“Penting agar dana ini dicairkan sesegera mungkin,” demikian pernyataan maskapai dalam surat tersebut.

Surat tersebut ditandatangi oleh kepala eksekutif American Airlines, Delta Air Lines, United Airlines, Alaska Air Group, JetBlue Airways Corp, Southwest Airlines, Hawaiian Airlines, dan Atlas Air Worldwide. Surat juga ditandatangani eksekutif senior di UPS Corp, FedEx dan kepala asosiasi perdagangan maskapai penerbangan.

Dalam surat tersebut, maskapai menyarankan bahwa pinjaman disalurkan berdasarkan sistem kursi per mil yang tersedia (available seat miles/ASM) pada 2019 bagi maskapai angkutan penumpang. Dalam industri penerbangan, ASM merupakan kapasitas penumpang. Sementara untuk operator kargo udara, pinjaman diberikan berdasarkan kapasitas tonase per mil dalam tahun operasi 2019.

Sebelumnya, Jum’at lalu, Presiden Donald Trump menandatangani regulasi terkait stimulus dan bantuan senilai 2,2 triliun dolar AS dalam bentuk undang-undang. Di antara stimulus tersebut adalah bantuan tunai senilai 25 miliar dolar AS kepada maskapai penumpang untuk menutupi biaya gaji karyawan dan 25 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman.

Sementara itu, operator kargo udara bisa mendapatkan 4 miliar dolar AS dalam bentuk hibah dan 4 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman.

Baca Juga:

Penerbangan Sepi, Respon Positif Pemerintah atau Maskapai PHK Karyawan?

Dipukul Covid-19, SIA Terbitkan Ekuitas Baru dan Obligasi Konversi untuk Danai Operasional

Para maskapai mereka berharap dewan eksekutif perusahaan dapat bertemu dengan Departemen Keuangan untuk membahas persyaratan tertentu. Departemen Keuangan belum memberikan komentar mengenai surat tersebut, Ahad (29/3/2020).

Selian itu, maskapai juga telah melayangkan ancaman. Jika tidak mendapatkan bailout (bantuan dari pemerintah) dalam waktu dekat, mereka akan segera memberlakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) puluhan ribu pekerja dalam beberapa hari.

Mereka memberikan tenggat waktu kepada Departemen Keuangan AS hingga Selasa (1/4/2020) untuk mengeluarkan prosedur bagi maskapai penerbangan yang ingin mengajukan hibah.

Maskapai penerbangan mengatakan, Departemen Keuangan harus mengalokasikan hibah sesuai dengan gaji dan tunjangan yang dibayarkan operator mulai 1 April hingga 30 September. Untuk mendapatkan hibah, maskapai harus mengajukannya terlebih dahulu ke Departemen Transportasi AS.

Berdasarkan pengajuan pasar saham 2019 untuk maskapai penerbangan AS yang diperdagangkan publik, American Airlines mengeluarkan biaya paling tinggi dalam gaji dan tunjangan. Besarannya mencapai 6,4 miliar dolar AS selama periode enam bulan. MAskapai ini optimistis memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman dan hibah senilai 12 miliar dolar AS dari pemerintah.

United Airlines, maskapai dengan penerbangan terjauh dalam rute Asia-Pasifik, mencatat tingkat ASM tertinggi yakni sekitar 285 ribu pada 2019. Diikuti oleh Delta, American Airlines, Southwest, Alaska, JetBlue, Spirit Airlines dan Hawaiian.