Fri. May 29th, 2020

Jelang Lebaran, ASDP Antisipasi Arus Mudik dengan Kunci Koordinasi

                                   

Kendaraan pribadi dan penumpang yang melakukan penyeberangan menjelang Lebaran ini tidak seramai tahun 2019. Memang ada larangan mudik yang digaungkan Pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun kalau masyarakat ternyata banyak pula yang mudik, bahkan bisa jadi pelabuhan penyeberangan seramai tahun lalu, apa antisipasi dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)?

Direktur Utama ASDP, Ira Puspadewi mengatakan, biasanya hari-hari ini, beberapa hari menjelang Idul Fitri atau Lebaran, pelabuhan penyeberangan ramai dan terjadi antrean kendaraan yang akan masuk ke kapal penyeberangan.

Tahun 2019 misalnya, di tujuh cabang utama yang dilayani, yakni Merak (Banten), Bakauheni (Lampung) Ketapang (Jawa Timur), Lembar ( Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat), Batam (Kepulauan Riau), Bitung (Sulawesi.Utara), dan Kayangan (Sumbawa, Nusa Tenggara Barat) sebanyak 395.101 kendaraan pribadi melakukan penyeberangan. Namun tahun 2020 ini, hanya 220.004 kendaraan pribadi yang masuk.

“Biasanya kalau Lebaran, yang ramai itu kendaraan pribadi. Tahun lalu, di tujuh tempat hampir 400.000 kendaraan, tapi tahun ini hanya 220.000-an. Turun 44 persen,” ujar Ira dalam jumpa wartawan melalui daring, Kamis (14/5/2020). Dalam acara ini, Ira didampingi Direktur Komersial dan Pelayanan ASDP, M Yusuf Hadi dan Direktur Teknik dan Fasilitas ASDP, Kusnadi C Wijaya, dipandu Sekretaris Perusahaan ASDP, Imelda Alini.

Ira menambahkan, penumpang pun turun 39 persen dari 7.310.806 orang menjadi hanya 4.485.546 orang. “Secara signifikan semua kategori turun, walaupun untuk kendaraan logistik turunnya lebih kecil, hanya 8 persen,” ucapnya.

Kendaraan logistik yang menggunakan moda penyeberangan periode Maret-April 2020 ada 783.545 unit, sementara tahun 2019 sebanyak 853.130 kendaraan. Logistik turun karena produksinya menurun. Karena turunnya sedikit, kata Ira, dapat diindikasikan bahwa arus logistik berjalan lancar.

Ira menjelaskan, “Untuk arus mudik, kita pantau lintasan penyeberangan Merak-Bakauhuni, Ketapang-Gilimanuk, juga di Batam, Bitung, Ternate, dan Ambon.”Kalau ternyata pemudik banyak, “Kami koordinasi dengan Pemda. Kalau musim ini, kami tahu, kuncinya: koordinasi!

“Selain itu, penerapan pembelian tiket secara daring (online) lewat situs ferizy.com juga bisa mengatasi antrean di terminal dan pelabuhan. Sejak 1 Mei 2020 sudah 100 persen pembelian tiket lewat online. Realisasinya, di Merak dan Bakauhuni 70 persen online dan 30 persen cashless atau beli langsung (go show) dengan kartu pembayaran bukan tunai. Di Ketapang yang online 93 persen dan di Gilimanuk 88 persen.

Dari persentase itu, untuk kendaraan logistik sudah 100 persen membeli tiket lewat online. Sementara untuk penumpang masih ada yang melihat-lihat dulu, apakah bisa bepergian atau tidak, jadi membeli go show. Menurut Ira, pembelian tiket melalui daring sepenuhnya akan diberlakukan setelah masa pandemi Covid-19 berlalu.

Memang tidak ada penutupan pelabuhan penyeberangan yang dikelola ASDP selama masa pandemi Covid-19 ini. “Sederhananya tidak pernah ditutup, selalu buka 24 jam, tapi ada beberapa kondisi ditutup. Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk tidak ditutup,” ucap Ira. Kapal-kapal penyeberangan atau ferry pun tetap beroperasi dan melayani kendaraan barang atau penumpang.

“Namun semua yag melalui pelabuhan kami, setelah PSBB (pembatasan sosial berskala besar) adalah yang sudah masuk clearence dari gugus tugas. Ada cek poin dari gugus tugas, kemudian diverifikasi. Setelah melewati gugus tugas dan cek poin, maka semuanya diperlakukan khusus, seperti menggunakan masker dan melakukan physical distancing, ketika berada di dalam kapal,” tuturnya.
.