Investigasi KNKT 2021: Kasus Pelayaran Paling Banyak Korban Jiwa, Kecelakaan Pesawat PK-CLC Paling Menonjol

Read Time:3 Minute

Moda pelayaran menjadi penyumbang angka terbesar dengan korban jiwa terbanyak pada kasus kecelakaan yang diinvestigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). KNKT menginvestigasi 19 kasus dengan korban meninggal dunia dan hilang 342 jiwa.

Sementara itu, kecelakaan pesawat terbang Boeing 737-500 PK-CLC dengan operator Sriwijaya Air merupakan kasus paling menonjol dengan korban meninggal dunia 56 jiwa. Sampai sekarang, kecelakaan yang terjadi 9 Januari 2021 itu masih dalam proses investigasi.

Demikian disampaikan Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam media rilis akhir tahun 2021 di Jakarta, Senin (20/12/2021). “KNKT terus melakukan proses investigasi terhadap kecelakaan, sekaligus memberikan rekomendasi demi menjamin keselamatan dan perbaikan layanan transportasi Indonesia pada masyarakat,” ujarnya.

Selama tahun 2021, KNKT menginvestigasi 60 kasus kecelakaan transportasi. Terdiri dari 19 kasus kecelakaan pelayaran, 18 kasus kecelakaan  penerbangan, 18 kasus lalu lintas dan angkutan jalan, serta lima kasus kecelakaan kereta api.

Pelaksana Tugas Kepala Subkomite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT, Haryo Satmiko memaparkan, keselamatan kapal penangkap ikan menjadi isu penting. “Banyak yang harus diperbaiki, terutama terkait kasus kapal-kapal di bawah100 GT,” ucapnya.

Disebutkan bahwa sudah ada 300-400 kecelakaan yang terjadi pada kapal-kapal kecil itu dengan korban jiwa sekitar 100 orang. Namun, kata Haryo, syarat untuk diinvestigasi KNKT adalah kapal-kapal yang di atas 100 GT. “Ini seperti simalakama dan perlu penanganan yang spesifik. Namun sekarang stakeholders sudah ada perhatian karena kami bekerja hanya di hilir, tidak dari hulunya,” ucapnya.

Hal tersebut terjadi ketika Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menaruh perhatian. Dua instansi pemerintah ini meminta KNKT untuk menginvestigasi kapal gako, kapal kecil yang terbalik, pada 15 Mei 2021.

Kecelakaan lainnya yang menonjol adalah kasus kapal motor penumpang Yunicee. Kapal dengan 16 ABK yang mengangkut 41 penumpang dan 25 kendaraan itu, pada kecelakaan di Selat Bali menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan sembilan orang hilang. Kecelakaan yang terjadi pada 29 Juni 2021 itu masih dalam proses investigasi.

Soerjanto menambahkan, banyaknya kecelakaan pelayaran itu karena kurangnya disiplin dalam memperhatikan perkembangan cuaca, apalagi ketika terjadi cuaca ekstrem. “Sebenarnya dari BMKG sudah ada peringatan cuaca itu, tapi pelaku pelayaran tidak disiplin,” ungkapnya.

Pada moda penerbangan, selain kasus PK-CLC, ada delapan kecelakaan serius lain yang terjadi pada tahun 2021, di samping sembilan insiden. Kecelakaan-kecelakaan itu menyebabkan 66 orang meninggal dunia.

“Sampai saat ini, belum ada satu pun hasil investigasinya yang selesai. Namun kalau kita cermati, kasus-kasus kecelakaan itu diawali dengan kerusakan teknis pesawat,” ujar Capt Nurcahyo Utomo, Kepala Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT.

Ditambahkannya, banyaknya kerusakan pesawat itu, apakah karena kurang biaya perawatan, atau teknisinya kurang pelatihan. “Kita sedang dalami itu,” kata Nurcahyo.

Soejanto pun mengakui, pandemi covid-19 berdampak. “Mempengaruhi gerak KNKT juga. Perlu penelitian dampak pandemi ini, termasuk pada kerusakan pesawat tadi. KNKT belum bisa sampai sejauh itu untuk melakukan penelitian, ” ucapnya.

Pada lalu lintas dan angkutan jalan,  ada 18 kasus kecelakaan yang diinvestigasi. Data KNKT menunjukkan ada enam titik daerah rawan kecelakaan (DRK), yaitu tikungan Harmoko, flyover kretek, kertek Wonosobo, kertek Dieng, kertek Cangar, dan turunan salib putih Salatiga.

“Kalau soal jumlah kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan serta penyebabnya itu ada di kepolisian. Kalau di KNKT adanya hazard bukan populasi kecelakaan,” kata Wildan, Pelaksana Tugas Kepala Subkomite Investigasi Kecelakaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan KNKT.

Untuk menindaklanjut titik-titik rawan itu, kata Wildan, KNKT membuat rekomendasi yang diberikan pada instansi terkait. Juga mengadvokasi program mitigasi serta melakukan pemantauan dan evaluasi.

“Kecelakaan di jalan tol menurun jumlahnya sesuai trafiknya yang memang menurun, tapi rate accidents naik. Faktor kelelahan yang banyak jadi sebabnya, maka kita harus kurangi fatigue itu,” tambah Soerjanto, seraya menyampaikan bahwa KNKT tengah khusus menginvestigasi kecelakaan kendaraan roda dua, terutama yang matik.

Sementara itu, moda kereta api (KA) paling sedikit kasus investigasinya. Tahun 2021 hanya lima kasus dengan kategori anjlokan atau terguling dan tabrakan. “Yang tabrakan itu ada dua, termasuk tabrakan rangkaian kereta uji coba TS 29 dan TS 20 LRT Jabodetabek pada 25 Oktober 2021,” jelas Suprapto, Kepala Subkomite Investigasi Kecelakaan Kereta Api KNKT.

Suprapto menyampaikan, temuan KNKT di lapangan pada kasus tabrakan LRT menunjukkan bahwa teknisi TS 29 mengalami distraction akibat penggunaan telepon seluler. “Dia tidak fokus dalam menjalankan kereta, melihat kecepatan, dan posisi kereta,” ungkapnya.

Foto: bisnistempo.co