Fri. Jun 5th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (8)

                                   

Assalamualaikum semua …

Tonggak sejarah (milestone) pertama untuk pembangunan pesawat N250 diluncurkan pada Juni 1989 di Paris Air Show ke-8. Milestone pertama ini adalah diumumkannya pada publik internasional bahwa bangsa Indonesia memulai pembangunan pesawat terbang. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh BJ Habibie.

Sebenarnya rencana bangsa Indonesia untuk membuat pesawat terbang sudah dikenalkan pada Juni 1986 ketika berlangsung Indonesia Air Show pertama, yang digelar di Bandara Kemayoran, Jakarta. Namun Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) memancang tonggak sejarah pertamanya di Pameran Kedirgantaraan Le Bourget di Paris, Prancis, pada tahun 1989.

Pada Paris Air Show 1989, IPTN memang belum menampilkan wujud rancangan pesawat terbang yang akan dibangunnya. Namun persiapan untuk memulai proyek yang bakal menjadi kebanggan bangsa ini sudah matang dan sudah memasuki tahap preliminary design.

Kesiapannya sudah bukan hanya di atas kertas. Pada Maret 1991 misalnya, majalah Angkasa menulis, sebagai berikut. “Jika pesawat N250 terbang tahun 1995, bertepatan dengan peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka dan siapa tahu namanya Gatotkoco, ada dua hal yang pasti dipancangnya.”

Dua hal itu: Pertama, dengan dibangunnya pesawat terbang bermesin dua dan bertempat duduk 50, bangsa Indonesia memperlihatkan pencapaian teknologi yang tinggi, yakni mampu merancang dan membuat pesawat terbang sendiri. Pesawat terbang yang layak ditawarkan kepada dunia. Kedua, industri penerbangan Indonesia maju sendiri ke arena persaingan pesawat terbang komersial dunia.

Di pasaran, N250 sudah diperhitungkan pesaing-pesaingnya. Para pesaing itu berani menawarkan pesawat terbang buatannya dengan keunggulan “reduced fuel consumption”, “new technology”, “modernized aircraft”, dan “new generation high capacity”. Di balik pesawat terbang yang ditawarkan itu ada nama-nama besar pabrik atau manufaktur yang sejarahnya paling sedikit tiga kali usia IPTN, yang berdiri tahun 1976.

Tentu IPTN sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan dari pesaingnya. Pesawat N250 akan menghadapinya dengan konsep “low cost”, yang berkaitan dengan struktur dan airframe. Konsep lainnya adalah “high tech”, terutama dalam avioniknya.

Bagaimana IPTN merancang pesawat terbang yang “low cost” dan “high tech” itu? Kita sambung besok dalam cerita kesembilan (9) ya.