Sat. Jul 11th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (64) Tinggal Kenangan?

                                   

Assalamualaikum semua …

Sejak N250 dikandangkan (grounded) tahun 2000 sampai hampir lima tahun kemudian, tampaknya tak ada yang “peduli”. Dua prototipenya; PA-1 Gatotkoco dan PA-2 Krincingwesi, berada di hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam kondisi yang memprihatinkan.

Pada 3 Januari 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninjau N250 ketika pertama kali berkunjung ke PTDI. Satu bulan sebelumnya, tepatnya 5 Desember 2005, BJ Habibie yang mantan Presiden RI ketiga sempat pula datang ke PTDI.

Kunjungan Habibie ke PTDI itu merupakan kunjungan pertamanya setelah melepaskan jabatannya sebagai Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) tahun 1998. “Sejak tahun 1998, secara sistematis dan terarah, keberadaan IPTN dihapus dari muka bumi Ibu Pertiwi!” ucapnya.

Habibie mengatakan, pasca CN235 dan N250, Indonesia belum memiliki lagi produk pesawat terbang sipil rancangan sendiri. Karena industri tak lagi memiliki kemampuan untuk melakukan pengembangan pesawat terbang baru, proses nilai tambah tidak maksimal.

Tak ingin tinggal diam, Habibie pun memulai program baru yang pada pertengahan tahun 2000-an itu sedang dipersiapkan. Program ini adalah pengembangan pesawat terbang regional turboprop skala menengah-besar untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara domestik dan internasional.

Habibie tak ingin visi berkesinambungan bangsa Indonesia pada kedirgantaraan mati begitu saja. Bersama putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie, serta beberapa tenaga ahli dan engineer pesawat terbang yang sebelumnya berkiprah di IPTN, memulai pembuatan R80.

Bukan hanya itu, PTDI juga menyiapkan pesawat propeller 19 penumpang N219. Digagas Andi Alisjahbana, perancang engine mount dan engine nacelle N250, pesawat yang terbang perdana pada 16 Agustus 2017 ini diprioritaskan untuk operasional penerbangan perintis. Kemudian PTDI juga diminta Presiden Joko Widodo untuk mengembangkannya menjadi pesawat N245.

Sayangnya, ketiga pesawat rancangan anak bangsa itu belum sepenuhnya terwujud. N219 Nurtanio belum juga meraih sertifikasi, apalagi diproduksi. Bahkan R80 dan N245 tidak lagi masuk proyek strategis nasional (PSN) sejak diumumkan pada 29 Mei 2020.

Semangat N250 memang sempat dinyalakan dan cukup menggelora pada era tahun 2010-an. Sempat ada pemikiran untuk menghidupkannya lagi dan setelah dihitung-hitung membutuhkan dana sekitar Rp4triliun. Tentu saja hal ini sekadar wacana.

Pesawat N250 pun dikeluarkan dari hanggar dan dipajang di area PTDI. Terkadang dipamerkan juga, seperti di perhelatan Bandung Air Show 2012. Namun memasuki tahun 2020 dan ke depan nanti, akankah N250 tinggal kenangan?

Cerita tentang “Ini Cerita Pesawat N250” pun selesai.