Ini Cerita Pesawat N250 (63) Sempat Ditawarkan

Assalamualaikum semua …

Presiden KH Abdurrachman Wahid meresmikan penggantian nama dan logo Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) atau Indonesian Aerospace (IAe) tahun 2000. Gus Dur melakukan perombakan organisasi dengan membentuk unit-unit bisnis untuk mendongkrak pendapatan perusahaan.

Pada saat itu, Direktur Utama PTDI adalah Jusman Sjafii Djamal, yang menjabat dalam periode 2000-2002. “Waktu zaman saya itu, N250 saya tawarkan,” ujarnya.

Waktu itu, yang berminat untuk membangun industri pesawat terbang adalah Mahathir Muhammad dari Malaysia, juga dari Brunei Darussalam dan Walikota Tokyo dari Jepang. Kala itu, Jepang akan membentuk Asia Community AirPlane (ACAP). Melihat ada N250, Walikota Tokyo bilang, bagaimana kalau pesawat terbang inilah yang dijadikan ACAP?

Kalau Mahathir mengajak untuk membentuk konsorsium Malaysia-Indonesia. Namun ia ingin pesawat terbang itu namanya bukan lagi N250, tapi M250 dari “Mahathir 250”. “Saya sih oke saja karena bagi saya, program pesawat terbang ini harus jalan,” ungkap Jusman.

Rupanya upaya-upaya yang dilakukan PTDI dalam masa pemulihan krisis moneter di Indonesia itu tak membuahkan hasil. Program N250 tetap tak bisa dilanjutkan. Apalagi unjuk rasa karyawan PTDI berlangsung terus menerus.

Tahun 2000 itu pula, akhirnya N250 Gatotkoco dan N250 Krincingwesi dikandangkan (grounded) sampai waktu yang tidak ditentukan. Padahal PA-1 dan PA-2 ini sudah membukukan 800-850 jam terbang dari 1.700 jam uji terbang yang direncanakan untuk type certification.

Pembuatan N250 Koconegoro atau prototipe ketiga (PA-3), yang sudah 25 persen jadi, pun dihentikan. PA-3 ini akan digunakan untuk uji sertifikasi ke Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat.

Biaya pembangunan N250 memang terus membengkak, seiring dengan revisi yang dilakukan. Menurut Kepala Program N250, Djoko Sartono, biaya program N250 awalnya sekitar 80juta dollar AS. Namun biaya ini terus menerus direvisi, sehingga naik menjadi 200juta dollar AS.

Kemudian biaya yang dianggarkan meningkat lagi, termasuk untuk investasi produksi, engineering, dan pengembangan, yang mencapai angka 900juta dollar AS. Setelah ditambah untuk mesin dan pendukungnya, dana yang dibutuhkan menjadi 1,2miliar dollar AS.

Dana tersebut, kata Djoko, tidak dihabiskan semua. Sampai terbang perdana PA-1 dan PA-2, dana yang dikeluarkan mencapai 1miliar dollar AS.

Di mana sekarang PA-1 dan PA-2? Besok kita tuntaskan ceritanya ya dalam cerita keenam puluh empat (64)